Investor Asing Banjir Keluar: IHSG Anjlok ke 4.900, Saham BUMN Jadi Incaran Net Sell
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan signifikan dengan ditutup di zona merah pada level 4.904,28, Selasa (3/11/2026), menandai pelemahan sebesar 192,54 poin atau 3,78% dalam satu hari.
- Penurunan tajam ini menjadikan IHSG turun hampir 40% secara year-to-date (ytd), sebuah indikator krusial yang mengkhawatirkan bagi para pelaku pasar.
- Data RTI menunjukkan bahwa perdagangan hari ini melibatkan nilai transaksi sebesar Rp 11,43 triliun dari 24,72 miliar lembar saham, di mana mayoritas saham berakhir melemah.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan signifikan dengan ditutup di zona merah pada level 4.904,28, Selasa (3/11/2026), menandai pelemahan sebesar 192,54 poin atau 3,78% dalam satu hari. Penurunan tajam ini menjadikan IHSG turun hampir 40% secara year-to-date (ytd), sebuah indikator krusial yang mengkhawatirkan bagi para pelaku pasar. Data RTI menunjukkan bahwa perdagangan hari ini melibatkan nilai transaksi sebesar Rp 11,43 triliun dari 24,72 miliar lembar saham, di mana mayoritas saham berakhir melemah.
Secara kumulatif, dinamika negatif ini sudah berlangsung sejak awal tahun. Selain melemah 3,78% secara harian, IHSG juga tercatat turun 6,87% secara mingguan dan 20,81% secara bulanan. Dari total perdagangan, hanya 57 saham yang menguat sementara 624 saham melemah dan 37 saham stagnan. Tren turun yang konsisten ini memicu kepanikan jual di berbagai sektor, namun yang paling menonjol adalah sektor keuangan dan infrastruktur milik negara.
Domolinasiasi Net Sell di Tiga Besar saham BUMN
Kondisi tersebut diperparah oleh dominasi keluaran dana asing atau net foreign sell yang mencapai Rp 831,55 miliar pada sesi pertama perdagangan. Berdasarkan data Stockbit, tiga perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menjadi penyumbang terbesar aksi jual bersih ini. Berikut rincian tiga besar saham BUMN yang paling banyak dilepas investor asing pada sesi I:
- PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI): Net sell sebesar Rp 173,45 miliar.
- PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM): Net sell sebesar Rp 95,77 miliar.
- PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM): Net sell sebesar Rp 69,40 miliar.
Meskipun aksi jual masif terjadi pada BUMN tertentu, tetap terlihat arus masuk (net foreign buy) pada sektor perbankan syariah dan BUMN plat merah lainnya, meski nilainya jauh lebih kecil dibandingkan arus keluar. Rincian tiga besar saham yang justru didorong investor asing antara lain:
- PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BRIS): Net buy Rp 37,87 miliar.
- PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI): Net buy Rp 27,88 miliar.
- PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI): Net buy Rp 16,63 miliar.
Proyeksi Dampak terhadap Stabilitas Pasar
Kelanjuran pelemahan yang begitu dalam, khususnya di mana nilai transaksi harian cukup tinggi mencapai Rp 11,43 triliun, menunjukkan volatilitas pasar yang sangat tinggi. Imbas dari anjloknya IHSG ini juga telah menyita perhatian tinggi, sebagaimana tergambar dalam berita terkait di mana Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjelaskan secara khusus ke Presiden Prabowo soal penyebab anjloknnya IHSG akibat perubahan metodologi MSCI. Respons regulator dan pemerintah pusat menjadi krusial dalam menstabilkan sentimen pasar yang sedang terguncang akibat pergeseran indeks global yang berdampak pada likuiditas dan kepercayaan investor domestik maupun internasional.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Ancaman Pelemahan Rupiah: Lukman Leong Proyeksi Tembus Rp 18.350, BI Akui Tantangan Menjaga Stabilitas

IHSG Anjlok 3,78% di Akhir Perdagangan, Investor Asing Lepas 10 Saham Unggulan dengan Net Sell Rp575 Miliar

Respons Keras Publik, KAI Batalkan Rencana Perubahan Nama Rute Kereta di Gapeka 2026
