IHSG Menguat ke 5.126 Didorong Sentimen Dalam Negeri Meski Bayang Bayang Pemilu AS
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

- Pasar modal Indonesia mengawali perdagangan Selasa (3/11/2026) dengan nada optimis setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat signifikan sebesar 29,70 poin atau 0,58 persen ke level 5.126,53 .
- Kinerja positif ini turut terdorong oleh kenaikan Indeks LQ45 yang naik 3,41 poin atau 0,66 persen ke posisi 521,30.
- Di sesi pembuka awal, tercatat volume transaksi sebesar 3,59 juta lot dengan nilai mencapai Rp129 miliar , menandakan aktivitas investor masih cukup hidup di tengah kehati-hatian global.
Pasar modal Indonesia mengawali perdagangan Selasa (3/11/2026) dengan nada optimis setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat signifikan sebesar 29,70 poin atau 0,58 persen ke level 5.126,53. Kinerja positif ini turut terdorong oleh kenaikan Indeks LQ45 yang naik 3,41 poin atau 0,66 persen ke posisi 521,30. Di sesi pembuka awal, tercatat volume transaksi sebesar 3,59 juta lot dengan nilai mencapai Rp129 miliar, menandakan aktivitas investor masih cukup hidup di tengah kehati-hatian global.
Sentimen positif pasar hari ini didukung oleh kombinasi faktor domestik dan eksternal. Di dalam negeri, investor menanti hasil rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang diharapkan memberikan kejelasan arah kebijakan keuangan di tengah gejolak pasar. Sementara itu, penurunan tajam harga minyak global dinilai menjadi katalis positif bagi Indonesia sebagai importir neto, sehingga membantu meringankan tekanan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan inflasi.
Dinamika Global dan Penggerak Pasar
Pergerakan pasar global turut memberikan warna penting pada sentimen hari ini. Pemilu sela Amerika Serikat yang berlangsung bersamaan hari ini menjadi perhatian utama, di mana Partai Demokrat berupaya merebut kendali Kongres di tengah merosotnya popularitas Presiden Donald Trump. Data menunjukkan lebih dari 57 juta warga AS telah memberikan suara lebih awal, melampaui catatan pemilu 2022. Di sisi komoditas, harga minyak anjlok lebih dari 7% pada Senin lalu seiring harapan penyelesaian konflik antara AS, Israel, dan Iran melalui perundingan damai yang melibatkan Qatar.
Dari sektor riil global, data PMI Manufaktur China versi RatingDog menunjukkan pertumbuhan yang stabil namun melandai. Angka ini turun tipis menjadi 52,0 pada Oktober 2026 dari 52,1 di September, tetapi tetap melampaui ekspektasi pasar sebesar 51,6. Angka ini menandai ekspansi selama 11 bulan berturut-turut, didorong oleh lonjakan pesanan baru dan peningkatan permintaan ekspor meski laju pertumbuhannya mulai melambat dibandingkan bulan sebelumnya.
Implikasi Kebijakan dan Arah Selanjutnya
Secara teknis, anjloknya harga minyak mentah Brent ke US$104,77 dan WTI ke US$96,46 per barel merupakan kabar baik bagi neraca perdagangan dan daya beli domestik. Kondisi ini berpotensi memperkuat nilai tukar rupiah yang sebelumnya terbebani oleh tekanan inflasi global dan ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.
Meskipun demikian, para analis mencatat bahwa kejatuhan pasar modal dan rupiah dalam beberapa waktu terakhir masih menjadi pertanyaan publik yang harus dijawab oleh KSSK. Kebijakan baru pasar modal juga menjadi fokus utama investor dalam menentukan arah investasi ke depan. Dengan demikian, kepastian regulasi dan stabilitas sistem keuangan menjadi kunci utama bagi investor untuk mempertahankan posisi IHSG di atas level psikologis 5.000 dalam jangka menengah.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Ancaman Pelemahan Rupiah: Lukman Leong Proyeksi Tembus Rp 18.350, BI Akui Tantangan Menjaga Stabilitas

IHSG Anjlok 3,78% di Akhir Perdagangan, Investor Asing Lepas 10 Saham Unggulan dengan Net Sell Rp575 Miliar

Respons Keras Publik, KAI Batalkan Rencana Perubahan Nama Rute Kereta di Gapeka 2026
