IHSG Anjlok 2% dan Tembus Level Psikologis 5.000, Tekanan Sektor Infrastruktur dan Saham Blue Chip Jadi Pemicu Utama
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan berat pada perdagangan sesi I Selasa (3/11/2026), setelah anjlok 2,01% ke level 4.994,43 per pukul 11.02 WIB.
- Penurunan sebanyak 102,40 poin ini menarik indeks acuan bursa nasional kembali ke bawah level psikologis 5.000 , membatalkan penguatan awal yang sempat dicatatkan di pembuka perdagangan.
- Secara keseluruhan, aktivitas perdagangan tercatat dengan volume transaksi 102,03 juta lot dan nilai transaksi mencapai Rp3,92 triliun .
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan berat pada perdagangan sesi I Selasa (3/11/2026), setelah anjlok 2,01% ke level 4.994,43 per pukul 11.02 WIB. Penurunan sebanyak 102,40 poin ini menarik indeks acuan bursa nasional kembali ke bawah level psikologis 5.000, membatalkan penguatan awal yang sempat dicatatkan di pembuka perdagangan. Secara keseluruhan, aktivitas perdagangan tercatat dengan volume transaksi 102,03 juta lot dan nilai transaksi mencapai Rp3,92 triliun.
Meskipun diawali dengan indeks dibuka di 5.126,53 dan sempat menyentuh titik tertinggi harian di 5.143,58, penguatan tersebut tidak bertahan lama. Sejak awal sesi, IHSG berbalik arah dengan tekanan jual yang mendominasi, ditandai dengan kegagalan rebound di kisaran 5.080. Penurunan semakin dalam saat indeks menembus level 5.000 menjelang pukul 11.00 WIB, menyentuh titik terendah harian di 4.993,20.
Sektor Infrastruktur dan Saham Blue Chip Jadi Faktor Koreksi
Pelemahan pasar ini didorong oleh tekanan signifikan dari sejumlah sektor utama. Sektor infrastruktur menjadi yang terdampak terdalam dengan anjlok 3,1%, disusul sektor material dasar yang turun 2,8% dan sektor energi yang melemah 2,7%. Sejumlah saham blue chip besar menjadi pemberat indeks, antara lain PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Astra International Tbk (ASII), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS).
Di sisi lain, ada sejumlah emiten yang mampu menahan laju koreksi dan justru menguat, memberikan sedikit penyangga bagi indeks. Saham-saham tersebut meliputi PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk (MKNT), PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), PT Apollo Global Interactive Tbk (BOGA), PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), dan PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI).
Sentimen Global dan Rapat KSSK Jadi Penggerak Pasar
Pasar keuangan Indonesia kini berada di bawah bayang-bayang kompleksitas sentimen global. Di luar negeri, pemilu sela Amerika Serikat menjadi perhatian utama, di mana Partai Demokrat berupaya merebut kendali Kongres di tengah merosotnya popularitas Presiden Donald Trump. Data menunjukkan lebih dari 57 juta warga AS telah memberikan suara lebih awal, melampaui rekor pemilu sela 2022.
Berkaca dari dinamika global, anjloknya harga minyak dunia menjadi katalis potensial. Minyak mentah Brent turun 7,63% ke US$104,77 per barel dan WTI merosot 7,36% ke US$96,46 per barel, menyusul harapan berakhirnya konflik AS-Israel-Iran setelah pernyataan Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Donald Trump mengenai perundingan damai. Penurunan ini dinilai positif bagi Indonesia sebagai importir neto minyak, berpotensi meringankan tekanan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan inflasi. Dari dalam negeri, hasil rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) hari ini menjadi sorotan investor untuk mencari kejelasan arah kebijakan di tengah gejolak pasar modal dan nilai tukar rupiah.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Ancaman Pelemahan Rupiah: Lukman Leong Proyeksi Tembus Rp 18.350, BI Akui Tantangan Menjaga Stabilitas

IHSG Anjlok 3,78% di Akhir Perdagangan, Investor Asing Lepas 10 Saham Unggulan dengan Net Sell Rp575 Miliar

Respons Keras Publik, KAI Batalkan Rencana Perubahan Nama Rute Kereta di Gapeka 2026
