Harga Beras Naik di Seluruh Rantai Distribusi, Bapanas Optimalkan Peran SPHP untuk Stabilisasi
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

- Badan Pangan Nasional (Bapanas) resmi merespons kenaikan harga beras yang terjadi di seluruh rantai distribusi, mulai dari tingkat penggilingan hingga eceran, pada Oktober 2026.
- Kenaikan ini diakui oleh pemerintah tidak terlepas dari rendahnya produksi dalam negeri karena belum memasuki musim panen raya.
- Kondisi ini didata secara presisi oleh Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat adanya inflasi pada komoditas utama tersebut.
Badan Pangan Nasional (Bapanas) resmi merespons kenaikan harga beras yang terjadi di seluruh rantai distribusi, mulai dari tingkat penggilingan hingga eceran, pada Oktober 2026. Kenaikan ini diakui oleh pemerintah tidak terlepas dari rendahnya produksi dalam negeri karena belum memasuki musim panen raya. Andriko Noto Susanto, Deputi Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Bapanas, menjelaskan bahwa periode Oktober hingga Desember memang memiliki karakteristik produksi yang lebih rendah dibandingkan bulan Februari atau Maret saat panen raya berlangsung.
Kondisi ini didata secara presisi oleh Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat adanya inflasi pada komoditas utama tersebut. Ateng Hartono, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, mengungkapkan rata-rata harga beras di tingkat penggilingan naik 0,26% secara bulanan dan 6,89% secara tahunan. "Rata-rata harga beras di penggilingan pada bulan Oktober tahun 2026 secara total naik 0,26%, ini secara bulanannya. dan naik sebesar 6,89% secara year on yearnya," ujar Ateng dalam konferensi pers BPS. Data BPS juga menunjukkan rincian kenaikan berdasarkan kualitas beras dan tingkatan distribusi sebagai berikut:
Rincian Data Inflasi dan Rerata Harga Beras Nasional
Berdasarkan data BPS, kenaikan harga tidak hanya terjadi pada beras umum, tetapi juga pada segmen spesifik yang bervariasi antara beras premium dan medium. Rinciannya menunjukkan disparitas kenaikan yang menarik bagi pelaku pasar:
- Beras Premium (Penggilingan): Naik 0,01% secara bulanan dan melonjak 11,32% secara tahunan.
- Beras Medium (Penggilingan): Naik 0,35% secara bulanan dan 5,57% secara tahunan.
- Beras Grosir: Inflasi mencapai 0,01% secara bulanan dan 5,13% secara tahunan.
- Beras Eceran: Inflasi tercatat sebesar 0,08% secara bulanan dan 4,10% secara tahunan.
Sebagai rujukan harga pasar, BPS mencatat rerata harga beras pada Oktober 2026 adalah Rp15.765 per kg di tingkat eceran, Rp14.994 per kg di tingkat grosir, dan Rp14.365 per kg di tingkat penggilingan.
Intervensi SPHP dan Dampak Potensial Fenomena Cuaca
Untuk meredam kenaikan harga tersebut, Bapanas menginstruksikan Perum Bulog untuk menggelontorkan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Langkah ini dinilai krusial untuk memastikan kelompok masyarakat berpenghasilan rendah tetap dapat mengakses pangan dengan harga terjangkau saat harga pasar sedang tinggi. Andriko menegaskan bahwa intervensi ini adalah solusi langsung ketika harga beras di pasaran mengalami eskalasi.
Menanggapi pengaruh cuaca ekstrem, Andriko mengakui bahwa fenomena El Nino berpotensi memberikan dampak terhadap produksi. Namun, ia meluruskan bahwa pengaruh tersebut tidak sebesar dampak dari siklus produksi yang memang belum memasuki periode panen raya. "Iya, kalau produksi tidak lebih besar dari panen raya ya, itu benar. Kalau dampak terhadap El Nino mungkin iya, cuma tidak terlalu besar ya," pungkasnya, menitikberatkan bahwa penentuan kebutuhan dan pasokan beras dilakukan secara bulanan berdasarkan data statistik yang objektif.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

IHSG Ditembus Support Krusial, Analis Proyeksi Koreksi Lanjut ke Level 4.763

OJK Cabut Izin Usaha BPR Agritrans Batumarta Sumsel, LPS Ambil Alih Proses Likuidasi

Raffi Ahmad Hadapi Kisruh RANS Carnival: Manajemen Klaim Tak Ada Pengarahan Warga
