UNESCO: Angka Jurnalis Gugur Lonjakan 20 Persen, Serangan Drone Jadi Penyebab Utama di Zona Konflik

UNESCO baru saja merilis laporan mengejutkan yang menyoroti meningkatnya tingkat ancaman terhadap kebebasan pers global. Jumlah jurnalis yang gugur di seluruh dunia melonjak 20 persen pada periode 2024-2025, mencapai total 189 orang. Naikkan signifikan ini menandai titik tertinggi dalam delapan tahun terakhir, dengan mayoritas korban meninggal dunia akibat konflik bersenjata yang brutal.
Laporan resmi yang diterbitkan pada Senin ini mencatat bahwa dari 1 Januari 2024 hingga 31 Desember 2025, terdapat 189 jurnalis, pekerja media, dan pembuat konten media sosial yang kehilangan nyawa. Data menunjukkan distribusi kematian yang tidak merata, dengan konsentrasi tertinggi di wilayah Timur Tengah dan Amerika Latin. Secara rincian, negara-negara Arab mencatat 97 kematian, sementara kawasan Amerika Latin dan Karibia menyumbang 37 kematian lainnya. Palestina menjadi wilayah dengan angka tertinggi secara individual, di mana sedikitnya 62 pekerja media dilaporkan gugur. Di sisi lain, Ukraina mencatat 12 kematian jurnalis, dan Federasi Rusia melaporkan dua korban tewas.
Domino Serangan Drone dan Kritik Geopolitik
Faktor pemicu kematian paling dominan saat ini bukan lagi penembakan langsung, melainkan penggunaan teknologi militer modern. Laporan UNESCO menegaskan bahwa 40 persen dari seluruh kematian jurnalis di zona konflik diakibatkan oleh serangan pesawat nirawak atau drone. Secara total, 50 jurnalis gugur di enam negara akibat insiden terkait drone selama dua tahun terakhir. Di tengah temuan tersebut, Maria Zakharova, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, mengungkapkan kritik tajam. Ia menyatakan bahwa banyak jurnalis Rusia yang dibunuh oleh milisi rezim Kiev tidak dicantumkan dalam laporan terbaru Direktur Jenderal UNESCO mengenai keselamatan pers, sehingga data tersebut dianggap tidak lengkap secara geopolitik.
Paradoks Keselamatan Jurnalis di Era Konflik Modern
Keberlanjutan profesi jurnalistik kini terancam oleh eskalasi konflik bersenjata yang menyasar langsung para pelapor fakta. Data menunjukkan bahwa 127 kasus pembunuhan, atau 67 persen dari total kematian, terjadi di negara-negara yang tengah menghadapi konflik bersenjata aktif. Lonjakan 24 persen kematian di zona konflik ini mengindikasikan pergeseran lanskap keamanan media global, di mana drone menjadi ancaman utama yang mematikan. Bagi komunitas pers internasional, laporan ini menjadi peringatan keras bahwa perlindungan hukum dan protokol keselamatan standar tidak lagi cukup di tengah perang yang melibatkan teknologi canggih. Isu verifikasi data yang dikritik oleh pihak Rusia juga membuka perdebatan baru tentang objektivitas lembaga internasional dalam merekam korban perang di berbagai front konflik.
BERITA TERKAIT (Dunia)

Skandal Rasisme Guncang Montreal: Tujuh Polisi Dipecat, Kepercayaan Publik Terancam

Iran Ancam Jangkauan Rudal ke Pangkalan AS di Eropa Jika Agresi Berlanjut

Tentara Yaman Laksanakan 951 Operasi Tempur dalam 24 Jam, Lebih dari 250.000 Warga Terpaksa Mengungsi
