Senin, 2 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Trump dan Netanyahu Bahas Serangan Iran di Tengah Penurunan Populeritas Politik Keduanya

DuniaSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Internasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Trump dan Netanyahu Bahas Serangan Iran di Tengah Penurunan Populeritas Politik Keduanya
BAGIKAN:

Komunikasi intensif kembali terjalin antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, membahas potensi eskalasi militer terhadap Iran. Percakapan telepon yang berlangsung pada Sabtu (31/10) itu menjadi sorotan utama mengingat kedua pemimpin tersebut tengah menghadapi tekanan publik yang signifikan di negara masing-masing. Meskipun Netanyahu mendesak agar serangan dilancarkan segera setelah pemilihan paruh waktu AS, Trump memilih jalur diplomatik dengan menegaskan bahwa negosiasi dengan Teheran masih berjalan lancar dan tidak perlu diburu-buru karena infrastruktur militer Iran dinilai telah rusak.

Manuver Politik di Tengah Krisis Kepercayaan Publik

Situasi di Israel semakin kompleks setelah hasil pemilu pada 27 Oktober menunjukkan pelemahan signifikan terhadap blok Netanyahu. Koalisinya hanya berhasil mengamankan 53 kursi di Knesset, turun tajam dari 68 kursi pada pemilu 2022. Kemenangan tipis ini tidak otomatis menjamin Netanyahu tetap menjabat, melainkan memaksanya untuk lobi membentuk koalisi baru yang bergantung pada partai-partai lain, termasuk kelompok Arab yang untuk pertama kalinya memegang 19 kursi, menjadikannya penentu arah pemerintahan berikutnya. Angka tersebut mencerminkan erosi kepercayaan publik terhadap kepemimpinan Netanyahu dalam menangani dampak perang yang dimulai sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.

Sementara di Amerika Serikat, prospek kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela pada Selasa (3/11) semakin menguat, yang secara tidak langsung menggerus wewenang politik Presiden Trump. Data dari The Arab News dan jajak pendapat NBC News menunjukkan bahwa 60 persen responden tidak puas dengan kinerja Trump, terutama terkait kenaikan harga akibat perang di Iran. Para pakar menilai bahwa jika Demokrat menguasai Kongres dengan proyeksi 52 persen suara melawan 45 persen Republik, era pasca-Trump akan dimulai lebih cepat, membuka jalan bagi konsolidasi oposisi untuk pemilihan presiden 2028. Kecemasan ekonomi menjadi pemicu utama pergeseran sentimen pemilih, di mana janji kampanye dua tahun lalu dinilai tidak tercapai sementara bahaya kebijakan saat ini semakin terasa.

Dampak strategis dan Respons Kampanye Presiden Trump

Menyikapi anjloknya popularitas ini, Trump menggelar rapat umum di negara bagian lumbung suara Republik, yaitu Iowa dan Kansas, pada Minggu (1/11). Dalam orasinya, Trump menggunakan retorika keras yang menyebut Partai Demokrat sebagai kekuatan radikal ekstrem yang berniat mengubah AS menjadi negara komunis. Sebagai insentif elektoral, ia menjanjikan US$5.000 bagi setiap warga jika partainya menang, sebuah strategi untuk memobilisasi basis konservatif di tengah kekhawatiran ekonomi nasional. Sumber-sumber dekat dengan pembicaraan telepon menggambarkan interaksi kedua pemimpin sebagai "keras" namun "langsung", menandakan adanya ketegangan di balik upaya koordinasi strategis Washington dan Tel Aviv di tengah diplomasi yang sedang berlangsung untuk membuka kembali Selat Hormuz.

BERITA TERKAIT (Dunia)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ