Skandal Manipulasi Saham Guncang Turki, 455 Ribu Investor Terdampak dan Puluhan Orang Ditangkap
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Industri pasar modal Turki tengah diguncang skandal manipulasi saham berskala masif yang menyeret ratusan ribu investor ke dalam pusaran kerugian. Otoritas setempat telah menangkap lebih dari 45 orang, termasuk sejumlah petinggi perusahaan pengelola dana investasi, sementara indeks acuan bursa anjlok drastis akibat praktik penggelembungan nilai aset secara artifisial.
Keruntuhan Indeks Bursa dan Jebakan bagi Investor
Persoalan ini mencuat ketika beberapa penyedia dana investasi gagal mengembalikan uang nasabah tepat waktu. Dua perusahaan utama yang terseret adalah Pusula Portfoy dan Tera, di mana dua dana kelolaan Tera saja tercatat memiliki total aset mencapai sekitar 6,5 miliar euro atau setara US$6,37 miliar. Merespons kekacauan tersebut, Dewan Pasar Modal Turki (SPK) langsung menutup dana investasi milik tujuh perusahaan pengelola aset, termasuk Tera, Pusula, dan Atlas. Sebanyak 131 dana investasi dijadwalkan untuk dilikuidasi guna menyelamatkan sisa aset yang ada.
Dampak dari skandal ini sangat terasa di lantai perdagangan. Pada pertengahan September, indeks acuan BIST 100 anjlok hingga 6% hanya dalam satu hari, dan kehilangan sekitar 12% dalam beberapa hari perdagangan berikutnya. Bursa Efek Istanbul kemudian mengeluarkan 27 saham dari indeks acuan mulai 1 Oktober. Menteri Kehakiman Turki Akin Gurlek mengonfirmasi bahwa Kantor Kejaksaan Istanbul kini menyelidiki dugaan penipuan, pelanggaran undang-undang pasar modal, serta pembentukan organisasi kriminal. Aset milik 42 individu dan 46 badan hukum juga telah dibekukan oleh otoritas terkait.
Dugaan Manipulasi Nilai Aset dan Dampak Politik
Dugaan utama dalam kasus ini adalah perusahaan pengelola dana sengaja menaikkan nilai portofolio mereka secara tidak wajar. Padahal, aset di dalam dana tersebut diduga berisi saham-saham bermasalah berkualitas sangat rendah yang nyaris tidak memiliki nilai jual. Kondisi ini menjadi pukulan telak bagi masyarakat Turki yang selama ini berlindung di instrumen investasi seperti emas, valuta asing, dan reksa dana untuk mengamankan kekayaan dari laju inflasi yang berada di kisaran 30 persen.
Aysel Gundogdu, penasihat keuangan independen di Istanbul, menjelaskan bahwa batas waktu likuidasi diperpanjang dari tiga bulan menjadi enam bulan untuk mengurangi tekanan jual di pasar. Namun, ia memperingatkan bahwa investor tidak memiliki jaminan uang mereka akan kembali utuh karena nilai aset kemungkinan tidak cukup untuk memenuhi seluruh klaim. Ekonom Guldem Atabay menegaskan bahwa likuidasi bukan pengganti pertanggungjawaban hukum, dan pihak-pihak yang melakukan manipulasi harus menanggung kerugian investor. Skandal ini bahkan merambat ke ranah politik setelah Fatma Betul Sayan Kaya, wakil ketua Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) sekaligus mantan menteri, mengajukan pengunduran diri dari seluruh jabatannya kepada Presiden Recep Tayyip Erdogan di tengah proses penyelidikan yang terus bergulir.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

DJP Kumpulkan Pajak Digital Rp58,75 T, Tiga Perusahaan Baru Ditunjuk Pungut Pajak
Binance Buka Ulang Penarikan Dana, THORChain Tolak Bekukan Aset untuk FBI
IHSG Akhir Pekan Melemah 41 Poin, Bursa Sedia Hadapi Gelombang Hujan di Jakarta
