Rajiv Tembus 555 Titik Reses, Tekankan Konsistensi Mewakil Aspirasi Warga Bandung Barat
Fokus pada panduan keluarga islami, doa sehari-hari, dan nilai-nilai keagamaan.

Anggota DPR RI Fraksi Partai NasDem, Rajiv, menegaskan komitmennya untuk terus menjadi perwakilan yang konsisten bagi masyarakat Kabupaten Bandung dan Bandung Barat. Dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda sekaligus konsolidasi bersama ribuan relawan pada Sabtu (31/10/2026), Rajiv menekankan bahwa setelah menerima amanah rakyat, dirinya bukan lagi milik keluarga atau sahabat, melainkan sepenuhnya milik masyarakat yang ia wakili. Pernyataan ini menjadi penegasan atas dedikasinya dalam menjembatani aspirasi warga di kedua wilayah tersebut.
Refleksi Perjalanan dan Janji Politik
Rajiv mengenang awal perjalanannya bersama masyarakat Bandung yang dimulai saat pandemi Covid-19 lima tahun silam. Ia menyatakan bahwa saat masa reses, ia sengaja kembali ke lokasi pertama kali bertemu warga untuk merefleksikan perjalanan tersebut. Sebagai anggota Komisi IV DPR RI yang membidangi pertanian, Rajiv mengingatkan kembali janji kampanyenya, mempersilakan warga untuk tidak memilihnya kembali jika ia ingkar terhadap janji tersebut. Baginya, posisi di Senayan adalah hasil perjuangan kolektif warga, bukan pencapaian individual.
Konsistensi ini dibuktikan dengan kunjungannya yang menjangkau berbagai wilayah, termasuk daerah di mana ia kalah suara pada Pemilu 2024. Rajiv menegaskan bahwa ia tidak hanya mendatangi basis pendukung, tetapi juga wilayah yang menjadikannya calon pemenang bagi pihak lain, guna membuktikan kesungguhannya. Pendekatan ini sejalan dengan semangat Sumpah Pemuda yang ia anut melalui gerakan 'Baraya Rajiv', yang kini bertransformasi dari sekadar berjalan bersama rakyat menjadi berlari bersama mereka untuk mempererat silaturahmi dan konsolidasi.
Menjawab Keluhan Desil dan Dukungan Pertanian
Hingga kini, Rajiv telah melakukan kunjungan di 555 titik reses, menampung beragam keluhan yang diakuinya berada di luar ekspektasi karena tingginya antusiasme warga. Isu yang paling banyak dikeluhkan belakangan ini adalah dampak negatif dari penyesuaian struktural atau desil. Selain itu, sebagai wakil yang membidangi pertanian, ia berkomitmen membantu petani dalam menghadapi efisiensi yang meluas, serta memastikan standar kebutuhan petani terpenuhi secara bertahap sebelum periode berikutnya berakhir.
BERITA TERKAIT (Agama)

Satpol PP Bogor Segel Karaoke Tanpa Izin dan Amankan Puluhan Botol Miras Ilegal

KSP Resmikan SDN Adisutjipto 2 Yogyakarta, Dorong Integrasi Koding dan AI dalam Pendidikan

BNPB Soroti Karhutla Papua Selatan: 695 Hektare Terbakar, Upaya Pemadaman Perkuat Koordinasi
