Puluhan Ribu Material Longsor Timbun Glamping di Bali, Dua Pengunjung Hilang dan Jalan Penghubung Terputus
Mengamati dinamika politik nasional dan kebijakan pemerintah secara kritis.

Ledakan material longsor yang dipicu hujan deras tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga mengancam nyawa manusia di wilayah Bali. Di Kecamatan Petang, Badung, tebing amblas dan menimbun penginapan Eco Park Pelaga Glamping Retreat pada Minggu (1/11) malam sekitar pukul 23.00 WITA. Berdasarkan informasi awal, dua orang pengunjung yang identitasnya masih belum diketahui diduga terjebak di dalam bangunan saat material menutupi area menginap tersebut. Peristiwa ini menjadi perhatian utama karena proses evakuasi masih menghadapi tantangan berat akibat cuaca yang kurang bersahabat.
Eskalasi Dampak dan Hambatan Pencarian
Kepala Kantor SAR Denpasar, I Nyoman Sidakarya, mengungkapkan bahwa laporan kejadian baru diterima pada Senin (2/11) pagi pukul 06.10 WITA. Upaya pencarian awal yang dilakukan oleh pengelola bersama BPBD Badung, Camat Petang, dan Polsek Petang harus ditunda karena hujan lebat dan akses yang curam. Saat ini, satu tim rescue berisi sembilan personel telah dikerahkan dengan prioritas keselamatan operasional di lapangan. Di sisi lain, kerawanan tanah longsor juga meluas ke Kabupaten Gianyar, di mana jalan di Banjar Gambih, Desa Buahan, mengalami amblas pada Senin dini hari sekitar pukul 03.00 WITA.
Infrastruktur Jalan Rusak dan Antisipasi Dampak Lanjutan
Pengerjaan perbaikan jalan di Gianyar terkendala potensi longsor susulan. Ipda Gusti Ngurah Suardita dari Polres Gianyar menjelaskan bahwa badan jalan di tebing setinggi 20 meter amblas sepanjang sekitar 15 meter dengan lebar 7 meter. Kondisi ini membuat jalur tersebut tidak dapat dilalui kendaraan untuk sementara waktu. Kerusakan serupa terjadi di Kabupaten Bangli, di mana akses jalan penghubung Banjar Pulasari Kawan dan Desa Bangbang terputus. Iptu I Gede Gumiliarta dari Polres Bangli mencatat bahwa kapasitas gorong-gorong tidak mampu menampung debit air yang tinggi, sehingga warga kini terpaksa menempuh jalur alternatif dengan memutar sejauh 3 hingga 4 kilometer. Hingga saat ini, pencarian korban glamping dan penanganan dampak longsor masih terus berlangsung.
Peningkatan curah hujan di beberapa wilayah Bali dalam beberapa hari terakhir menjadi pemicu utama labilitas tanah yang memicu serangkaian bencana tersebut. Seluruh instansi terkait tengah berkoordinasi untuk memantau potensi longsor susulan demi menjamin keselamatan warga dan petugas di lapangan. Masyarakat yang bermukim atau berwisata di daerah rawan longsor diimbau untuk lebih waspada dan segera melapor ke pihak berwenang jika melihat indikasi tanah retak atau jebol.
BERITA TERKAIT (Berita Nasional)

Wali Kota Eri Cahyadi Borong Grand BAZNAS Award 2026, Zakat Surabaya Tumbuh Solid

Eri Cahyadi Raih Grand BAZNAS Award 2026 atas Optimalisasi Zakat Surabaya

Pakar Hukum Peringatkan Risiko Delegitimasi MK-MA Jika Putusan Gibran Tak Direspons
