Pertamina Klaim Program Desa Energi Berdikari Hasilkan Nilai Tambah Ekonomi Rp26 Miliar per Tahun
Jurnalis senior dengan pengalaman 15 tahun meliput isu politik dan berita nasional di Indonesia.

PT Pertamina (Persero) menegaskan bahwa dampak kumulatif Program Desa Energi Berdikari (DEB) telah menghasilkan nilai tambah ekonomi sebesar Rp26 miliar per tahun serta memberikan manfaat langsung maupun tidak langsung bagi sekitar 283 ribu orang. Pernyataan ini disampaikan oleh Vice President CSR and SME Management PT Pertamina, Rudi Ariffianto, dalam webinar "Detalk Desa Berdaya Energi Terjaga" di Jakarta, Senin. Ia menekankan bahwa esensi dari pengembangan DEB bukanlah sekadar pembangunan infrastruktur, melainkan dampak signifikan yang dirasakan secara nyata oleh masyarakat desa.
Program DEB yang diinisiasi sejak 2018 ini dirancang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan berbasis potensi sumber daya lokal. Rudi menjelaskan bahwa strategi ini diarahkan untuk membangun ekosistem pemberdayaan yang meningkatkan produktivitas, pendapatan, dan ketahanan warga, tidak berhenti hanya pada instalasi energi terbarukan. Hingga saat ini, Pertamina telah mengembangkan sekitar 310 desa DEB di berbagai wilayah Indonesia, dengan target masif mencapai 732 desa hingga tahun 2030, di mana sekitar 60 persen dari pengembangan tersebut berada di luar Pulau Jawa.
Rincian Capaian Infrastruktur dan Pemberdayaan Lokal
Dari sisi teknis, pengembangan DEB memanfaatkan berbagai sumber energi sesuai potensi lokal, meliputi tenaga surya, biogas, mikrohidro, biodiesel, hingga pembangkit listrik hibrida. Kapasitas pembangkitan energi terbarukan saat ini telah mencapai sekitar 1,5 MWp, dengan produksi biogas sebesar 973 ribu meter kubik. Untuk mendukung pengoperasian dan pemeliharaan fasilitas, sebanyak 223 local hero telah memperoleh sertifikasi keahlian sebagai Junior Operator, memastikan pengelolaan berjalan secara mandiri oleh masyarakat setempat.
Di sektor ketahanan pangan, 166 desa telah mengembangkan program berbasis pertanian yang menghasilkan sekitar 21 ribu ton beras dan 5 ribu ton komoditas pangan nonberas per panen dari lahan seluas 2.000 hektare. Dampak lingkungan dari program ini juga sangat signifikan, yaitu pengurangan emisi sekitar 1,1 juta ton CO2 ekuivalen, pengelolaan 145 ribu ton sampah per tahun, serta pemanfaatan lebih dari 23 ribu ton kotoran hewan untuk energi biogas.
Dampak Ekonomi dan Strategi Keberlanjutan
Rudi menegaskan bahwa keberhasilan program diukur dari dampak nyata, di mana petani mampu meningkatkan kapasitas produksi dan UMKM mendapatkan tambahan pendapatan. "Yang paling penting adalah bagaimana pengembangan DEB benar-benar berdampak signifikan kepada masyarakat... hingga masyarakat mampu mencukupi kebutuhannya," ujar Rudi. Untuk memastikan keberlanjutan, Pertamina mendorong penguatan kelembagaan ekonomi melalui koperasi atau badan usaha, sekaligus meningkatkan kompetensi local hero agar mampu mengelola fasilitas energi secara mandiri dan tangguh.
BERITA TERKAIT (Berita Nasional)

Kemenhut Gagalkan Pengiriman 343 Batang Kayu Liar Meru Betiri ke Bali

Dishub DKI Perluas Layanan Kapal Gratis untuk Pelajar SMKN 61 di Kepulauan Seribu

Ombudsman Ingatkan Polri: Penggeledahan Harus Hormati HAM dan Lindungi Anak
