Penambahan Daratan 32,8 Hektare di Sekitar Anak Krakatau Diverifikasi, Status 'Pulau Baru' Masih Menunggu Konfirmasi Lapangan
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Fenomena munculnya daratan baru di sekitar Gunung Anak Krakatau menjadi sorotan utama setelah aktivitas erupsi melanda kawasan tersebut pada awal September 2026. Badan Geologi Kementerian ESDM baru-baru ini mengonfirmasi adanya penambahan luasan daratan sekitar 32,8 hektare berdasarkan evaluasi citra satelit Sentinel. Penambahan ini terdeteksi di sektor barat laut hingga barat daya tubuh gunung, yang diyakini berasal dari pengendapan material piroklastik dan aliran lava pasca-erupsi.
Kemunculan struktur daratan ini memicu berbagai spekulasi di media sosial, khususnya terkait potensi terbentuknya pulau atau gunung api baru. Namun, para ahli menegaskan bahwa perubahan morfologi fisik ini merupakan konsekuensi logis dari aktivitas vulkanik yang intens. Daryono, anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) dan mantan pejabat BMKG, menjelaskan bahwa daratan tersebut hanyalah akumulasi material vulkanik seperti abu, batuan, dan lava yang mengendap di dasar laut dangkal kaldera purba Krakatau.
Deteksi Citra Satelit dan Temuan Dua Gumuk Daratan
Analisis teknis dari Badan Geologi tidak hanya mencatat peningkatan luas daratan utama, tetapi juga mendeteksi adanya dua tonjolan atau gumuk kecil yang muncul di sekitar tubuh gunung api. Kedua tonjolan ini terletak di bagian barat laut dan tenggara dari struktur utama Anak Krakatau. Meskipun terlihat jelas pada rekaman satelit, Badan Geologi menggarisbawahi bahwa interpretasi keberadaan dua gumuk ini masih bersifat sementara. Statusnya belum dapat dipastikan secara definitif sebagai pulau baru atau cikal bakal gunung api lain, sehingga memerlukan verifikasi lebih lanjut.
Secara kronologis, peningkatan aktivitas ini berakar dari erupsi yang kembali terjadi sejak 2 Juli 2026, memutus jeda aktivitas yang panjang. Puncak aktivitas ditandai dengan erupsi menerus pada 5 September 2026 yang disertai fenomena lava fountain atau air mancur lava. Fenomena ini terulang pada 8 September 2026 melalui dua kali erupsi pada pukul 05.08 dan 05.34 WIB, yang terekam oleh seismograf meski kolom abu tidak terlihat secara visual dari pos pengamatan.
Implikasi Pengamanan dan Prosedur Verifikasi Lapangan
Menyikapi perubahan morfologi yang signifikan ini, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menekankan pentingnya verifikasi langsung. Penetapan adanya daratan baru tidak bisa hanya mengandalkan gambar visual, melainkan harus dikonfirmasi melalui pemantauan morfologi dan pengamatan lapangan untuk membedakan antara penumpukan material biasa dengan pembentukan struktur geologis baru. Hingga saat ini, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat bahwa aktivitas Anak Krakatau telah kembali ke pola erupsi strombolian berdurasi singkat per 17 September 2026.
Dalam rangka keselamatan publik, otoritas mengeluarkan aturan jarak aman yang ketat. Masyarakat diimbau untuk tidak mendekati radius 2 kilometer dari pusat erupsi. Sementara itu, untuk area di mana dua gumuk daratan baru terdeteksi, larangan mendekat diperketat dalam radius 1 kilometer. Langkah-langkah ini merupakan bagian dari dinamika pertumbuhan gunung api muda yang masih berlangsung, di mana perubahan fisik yang cepat harus diantisipasi dengan kewaspadaan maksimal dari masyarakat pesisir Selat Sunda.
BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Sudin Perpustakaan Jakut Luncurkan Book Camp 2026: 85 Duta Literasi Targetkan Ekosistem Kebiasaan Baca Berkelanjutan

BPS: Penumpang LRT Jakarta Melonjak 66 Persen Sepanjang September 2026, Transjakarta Tembus 39 Juta Orang

Wisatawan ke Jakarta Capai 8,58 Juta Perjalanan, Naik 6,37 Persen Sepanjang September 2026
