Pemkab Pidie Jaya Tagih Komitmen Kemenbud Selamatkan 81 Situs Cagar Budaya
Jurnalis senior dengan pengalaman 15 tahun meliput isu politik dan berita nasional di Indonesia.

Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, secara resmi memperjuangkan penyelamatan 81 situs warisan sejarah yang rusak akibat bencana hidrometeorologi. Bupati Pidie Jaya, Sibral Malasyi, meminta dukungan serius dari Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) RI untuk memulihkan identitas peradaban masyarakat setempat yang kini terancam. Pernyataan tegas tersebut disampaikan saat menerima kunjungan kerja Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal Kemenbud, Bambang Wibawarta, di Pidie Jaya, Senin. Bencana banjir bandang yang melanda akhir November 2025 tidak hanya menghancurkan rumah warga dan infrastruktur, tetapi juga memberikan dampak kritis pada warisan budaya daerah.
Inventarisasi 81 Situs dan Dampak Banjir
Hasil inventarisasi awal menunjukkan adanya 81 situs cagar budaya yang tersebar di delapan kecamatan di Pidie Jaya. Situs-situs ini kini menghadapi ancaman serius karena endapan lumpur setinggi sekitar satu meter serta material kayu gelondongan yang menghantam beberapa bagian bangunan. Kasus paling krusial adalah Masjid Madinah di Gampong Dayah Kruet, Kecamatan Meurah Dua. Masjid bersejarah ini diperkirakan dibangun sekitar tahun 1623 oleh Teungku Japakeh dan memiliki kekhasan arsitektur berupa motif ornamen serta mimbar kaligrafi yang menurut cerita konon berasal dari Madinah. Keterlambatan penanganan dikhawatirkan akan memperberat kerusakan karena lumpur yang semakin mengeras dan potensi hujan susulan.
- 81 situs cagar budaya tersebar di 8 kecamatan.
- 1 meter ketinggian endapan lumpur di area situs.
- Tahun 1623 perkiraan pembangunan Masjid Madinah.
Percepatan Rehabilitasi dan Dukungan Teknis
Kunjungan ini merupakan bagian dari konsolidasi Program Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (PRRP) Bidang Kebudayaan Tahun Anggaran 2026. Bupati Sibral menegaskan bahwa pemulihan tidak boleh hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi wajib mencakup pelestarian budaya. Pemkab telah menginisiasi koordinasi lintas perangkat daerah untuk pendataan dan identifikasi tingkat kerusakan. Bambang Wibawarta dan rombongannya telah melakukan peninjauan langsung ke beberapa lokasi strategis, termasuk Masjid Madinah, Kompleks Makam Kuno Dayah Kruet, Dayah Tgk Chik Pante Geulima, dan Masjid Tgk Di Pucok Krueng. Pemkab berharap Kemenbud segera menindaklanjuti hasil peninjauan ini melalui dukungan teknis dan kajian ahli. Sibral Malasyi menegaskan, "Kami tidak ingin bencana hanya meninggalkan kerusakan, tetapi juga menghilangkan sejarah dan identitas daerah. Apa yang diwariskan para leluhur harus diselamatkan bersama," tutupnya, menegaskan urgensi preservasi nilai-nilai historis Aceh.
BERITA TERKAIT (Berita Nasional)

Asap TPA Degayu Pekalongan Belum Padam, BNPB Sebut 1,5 Hektare Lahan Hangus

Kemensos Komitmen Bangun Dua Sekolah Rakyat di Nabire untuk Putus Rantai Kemiskinan Antargenerasi
UNESCO Ungkap Krisis Impunitas Global: 86% Pembunuhan Jurnalis Tak Tuntas
