Mendag Budi Santoso: Ritel Modern Jadi Jembatan Strategis UMKM Tembus Pasar Global
Fokus pada liputan mendalam dan isu-isu sosial yang berdampak pada masyarakat luas.

- Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan bahwa integrasi produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) ke dalam jaringan ritel modern merupakan fondasi krusial bagi percepatan penetrasi pasar global.
- Pernyataan ini disampaikannya di Bandung, Jawa Barat, usai membuka Hari Ritel Nasional 2026 yang berbarengan dengan Bulan Mutu Nasional.
- "Kalau sudah masuk di ritel, berarti untuk ekspor akan lebih mudah," ujar Budi Santoso, menekankan korelasi kuat antara kualitas produk di pasar dalam negeri dan kesiapan daya saing di panggung global.
Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan bahwa integrasi produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) ke dalam jaringan ritel modern merupakan fondasi krusial bagi percepatan penetrasi pasar global. Pernyataan ini disampaikannya di Bandung, Jawa Barat, usai membuka Hari Ritel Nasional 2026 yang berbarengan dengan Bulan Mutu Nasional. Bagi Kementerian Perdagangan, ritel modern bukan sekadar kanal distribusi domestik, melainkan instrumen standardisasi mutu yang menjadi prasyarat utama bagi produk lokal untuk memenuhi standar ekspor internasional. "Kalau sudah masuk di ritel, berarti untuk ekspor akan lebih mudah," ujar Budi Santoso, menekankan korelasi kuat antara kualitas produk di pasar dalam negeri dan kesiapan daya saing di panggung global.
Kontribusi produk lokal di sektor ini telah mencapai capaian signifikan. Data terkini menunjukkan bahwa porsi produk UMKM di gerai ritel modern saat ini telah menyentuh angka 80 persen. Dominasi ini menandakan bahwa pelaku usaha lokal tidak hanya mampu bersaing di pasar dalam negeri yang besar, tetapi juga sedang dalam proses transformasi kualitas untuk memenuhi kriteria pasar luar negeri. Pemerintah, melalui kolaborasi dengan asosiasi seperti Aprindo, terus memberikan pendampingan agar produk lokal dapat melampaui sekadar penjualan domestik dan siap bersaing secara internasional.
Kerangka Pendampingan dan Penetrasi Ekspor
Untuk mempercepat misi globalisasi produk lokal, pemerintah memperluas fasilitasi keterhubungan pasar melalui berbagai instrumen strategis. Langkah konkret ini mencakup penyelenggaraan pameran internasional serta program khusus "UMKM Bisa Ekspor". Selain itu, penguatan diplomasi perdagangan dilakukan melalui penyiapan berbagai perjanjian perdagangan bilateral dan regional. Budi Santoso menjelaskan bahwa dengan standardisasi mutu melalui ritel modern, konsumen domestik terlindungi dan daya beli masyarakat meningkat, menciptakan ekosistem perdagangan yang sehat dan berkelanjutan. "Pasar dalam negeri ini sangat besar, kita harus bisa membuka akses pasar untuk produk lokal," tegasnya.
Eksklusi Strategis dan Finalisasi Perjanjian Dagang
Komitmen pemerintah dalam memperluas akses ekspor ditunjang oleh kehadiran jaringan diplomatik perdagangan yang masif. Saat ini, Kementerian Perdagangan menempatkan 46 perwakilan jaringan Atase Perdagangan dan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) yang tersebar di 33 negara. Institusi ini berperan vital dalam mendampingi pelaku usaha UMKM agar dapat mengakses pasar tujuan ekspor secara efektif. Fokus utama ke depan adalah finalisasi Perjanjian Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (I-EU CEPA). Diharapkan, kesepakatan ini akan membuka pintu lebar bagi produk unggulan ekspor Indonesia, khususnya kopi dan cokelat, untuk menembus pasar Uni Eropa dengan persaingan yang lebih kondusif.
- Porsi produk UMKM di ritel modern mencapai 80 persen
- 46 perwakilan perdagangan aktif di 33 negara
- Fokus ekspor unggulan: Kopi dan Cokelat ke Uni Eropa
BERITA TERKAIT (Berita Nasional)

DKI Hadapi Tantangan Infrastruktur: Dari Darurat Air Angke hingga Akuisisi Lahan Pemprov

Eks Kapolri Listyo Sigit Prabowo Ditahan, Tiga Jenderal Jadi Tersangka Kasus Penyadapan Ilegal Presiden

BMKG Perkirakan Hujan Ringan Sengkarapi Sore Hari, Suhu Udara Naik hingga 34 Derajat Celsius
