Lapas Perempuan Bandung Buka Lamoria Pavilijoen, Pusatkan Karya Napi
Mengulas sejarah kebudayaan Islam dan tokoh-tokoh penting dalam agama.

Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Bandung resmi menggelar soft launching Lamoria Pavilijoen, sebuah etalase karya narapidana yang mengundang antusiasme tinggi dari masyarakat. Acara yang berlangsung di Sport Jabar tersebut tidak hanya menampilkan pameran produk kerajinan tangan, tetapi juga menghadirkan ruang interaksi antara warga binaan, petugas, dan masyarakat umum. Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jawa Barat, Ika Yusanti, mengungkapkan rasa syukurnya terhadap dukungan masyarakat yang dianggap sebagai dorongan besar bagi upaya pembinaan kreativitas warga binaan dalam menghasilkan produk bernilai ekonomi.
Produk Kuliner dan Kerajinan Unggulan
Dalam rangka mempererat kembali benang penghubung warga binaan dengan masyarakat, pihak Lapas Perempuan Bandung membuka acara dengan senam Zumba, pemeriksaan kesehatan gratis, dan pameran produk Lamoria yang mencakup batik, ecoprint, rajutan, craft, hingga pakaian. Salah satu sorotan utama adalah dua produk kuliner unggulan, yaitu Puff Tape dengan delapan varian rasa dan kue soes dengan lima varian rasa baru, termasuk butterscotch coffee, coconut cloud, cokelat, dan matcha. Kepala Lapas Perempuan Bandung, Rika Aprianti, berharap produk-produk ini dapat menjadi opsi oleh-oleh khas Bandung yang membangkitkan kenangan lama kota tersebut.
Respon Positif dan Dampak Sosial
Antusiasme masyarakat terlihat jelas dengan kunjungan lebih dari 500 warga Bandung yang rela antre untuk mencoba produk Lamoria Pavilijoen. Produk Puff Tape dan soes bahkan habis terjual, menunjukkan penerimaan pasar yang sangat baik terhadap karya narapidana. Seorang napi bernama Mei, yang menemukan resep rahasia Puff Tape setelah enam tahun pengembangan, menyampaikan keharuannya melihat hasil karyanya disukai pengunjung. Pihak Dinas Pemuda dan Olahraga Jawa Barat yang mendukung acara ini juga mengapresiasi tingginya dukungan warga Bandung terhadap inisiatif Lapas Perempuan Bandung.
Keberhasilan soft launching Lamoria Pavilijoen ini menegaskan peran etalase karya napi sebagai media penghantar warga binaan untuk kembali menjadi warga negara yang mandiri dan taat hukum. Keterlibatan napi terampil seperti barista EA yang kewalahan melayani pesanan kopi pengunjung menunjukkan potensi besar dalam pengembangan keterampilan kerja. Melalui platform ini, Lapas Perempuan Bandung terus mempromosikan karya narapidana ke publik, memperkuat harapan bagi masa depan mereka yang lebih baik setelah menjalani masa hukuman.
BERITA TERKAIT (Agama)

Banjir Lahar Semeru Terekam CCTV di Lumajang, Suara Sirene EWS Jadi Tanda Bahaya

Banjir Lahar Semeru Dekati Permukiman Warga, EWS Aktivasi dan Tanggul Jebol

Gubernur Pramono Luncurkan Duta Antihoaks Jakarta 2026, Libatkan 356 Pelajar SMA
