Kimi Antonelli Borong Gelar F1 2026, Pecahkan Rekor Pembalap Termuda di Usia 20 Tahun
Mantan jurnalis olahraga yang kini berfokus pada analisis taktik sepak bola lokal maupun Eropa.

Mercedes AMG Petronas memastikan dominasi Kimi Antonelli di Sirkuit Autodromo Hermanos Rodriguez, Meksiko, yang sekaligus mengunci gelar juara dunia Formula 1 2026 secara matematis. Meskipun hanya berhasil finis di posisi ketiga pada balapan yang berlangsung Minggu (2/11) dini hari waktu Indonesia, hasil tersebut sudah lebih dari cukup untuk menjamin Antonelli mendominasi klasemen akhir musim. Pencapaian ini menandai era baru dalam kejuaraan dunia, di mana kebangkitan pembalap Italia muda ini menggeser pesaing-pesaing beratnya secara meyakinkan.
Dominasi Poin dan Rekor Umur Muda
Dengan tambahan 15 poin dari balapan Meksiko, Antonelli kini mengoleksi total 380 poin, jauh meninggalkan pemuncak klasemen kedua, Max Verstappen, yang tertinggal di angka 261 poin. Dengan tiga balapan tersisa, gap 119 poin tersebut menjadikan mustahil bagi Verstappen untuk mengejar ketertinggalan. Lebih dari sekadar perolehan poin, Antonelli mencatatkan sejarah baru dengan memecahkan rekor juara dunia termuda F1 di usia 20 tahun 68 hari, melampaui pencapaian legendaris Sebastian Vettel pada 2010 saat usianya 23 tahun 134 hari.
Performa Antonelli sepanjang musim 2026 sungguh impresif. Pembalap Italia ini tercatat meraih sembilan kemenangan dari balapan full race, sebuah statistik yang menunjukkan konsistensi dan kecepatan yang sulit ditembus lawan. Kecerdikan strateginya terlihat jelas di Meksiko; meski start dari posisi keenam, ia berhasil naik ke posisi terdepan di tengah balapan. Insiden bendera merah akibat crash Valtersi Bottas sempat mengubah dinamika lintasan, namun Antonelli tetap berhasil menjaga posisinya di tiga besar saat memasuki lap ke-48 hingga finis.
Prestasi Historis untuk Pengemudi Italia
Gelar ini juga memiliki nilai historis bagi motorsport Italia. Antonelli resmi menjadi pembalap Italia ketiga yang menyandang gelar juara dunia Formula 1, melanjutkan jejak prestisius yang ditinggalkan oleh Giuseppe Farina pada 1950 dan Alberto Ascari pada 1952 serta 1953. Keberhasilannya finis ketiga di belakang Max Verstappen yang juara dan Lewis Hamilton yang finis kedua menunjukkan betapa kompetitifnya perlombaan F1 2026. Namun, dalam tekanan yang ketat, Antonelli menunjukkan ketenangan juara dengan memastikan bahwa posisi ketiga adalah harga mati yang tak terelakkan untuk mempertahankan mahkota dunianya.
BERITA TERKAIT (Olahraga)

Veda Ega Ukir Lima Rekor Bersejarah usai Raih Podium Kedua di Moto3 Malaysia 2026

Havertz Hantam Anfield, Arsenal Putus Kutukan 14 Tahun dan Kuasai Puncak Klasemen

Hakim Danish Akui Keunggulan Honda usai Tumbang di Sirkuit Sepang
