Senin, 2 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Iran Waspadai Eskalasi Lama, Ancam Perluas Jangkauan Konflik Jika AS Teruskan Serangan

Ekonomi & PasarHendra GunawanHendra GunawanSumber: CNBC Indonesia
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Iran Waspadai Eskalasi Lama, Ancam Perluas Jangkauan Konflik Jika AS Teruskan Serangan
BAGIKAN:

Teheran mengeluarkan peringatan keras bahwa potensi konfrontasi militer baru dengan Amerika Serikat (AS) dapat berlangsung jauh lebih lama dan intens dibandingkan putaran pertempuran sebelumnya. Pernyataan ini muncul di tengah dinamika politik global yang rumit, setelah Presiden Donald Trump menyatakan adanya target tambahan di Iran yang perlu ditangani, meskipun upaya diplomatik untuk gencatan senjata antara Iran dan Qatar sedang berlangsung. Konflik yang semula dimulai sejak 28 Februari akibat serangan yang menewaskan Ayatollah Ali Khamenei dan menutup Selat Hormuz, kini telah bertransformasi menjadi perang proxy dengan melibatkan rudal dan drone yang dioperasikan oleh kelompok seperti di Lebanon dan Yaman.

Strategi Militer dan Diplomatik di Persimpangan

Juru bicara militer Mohammad Akraminia menegaskan bahwa Presiden AS tidak akan dapat menentukan secara sepihak waktu atau kondisi penyelesaian konflik ini. "Presiden Amerika tidak akan bisa menentukan waktu atau kondisi penyelesaiannya," ujar Akraminia, menggarisbawahi bahwa setiap upaya eskalasi akan memicu respons berkepanjangan dari Teheran. Sikap ini sejalan dengan peringatan sebelumnya dari pemimpin tertinggi baru, Ayatollah Mojtaba Khamenei, yang menyatakan tidak adanya batasan geografis dalam konflik dengan Amerika Serikat. Juru bicara Garda Revolusi Iran, Hossein Mohebbi, menambahkan bahwa sebuah teater operasi luas telah ditetapkan untuk menimbulkan kerusakan signifikan pada musuh, menandakan kesiapan Iran untuk memperluas jangkauan serangan lintas batas.

Sementara itu, dinamika keputusan strategis juga terlihat dari komunikasi langsung antara Washington dan Tel Aviv. Media AS melaporkan bahwa Trump dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, berdiskusi mengenai waktu yang tepat untuk meningkatkan operasi tempur. Netanyahu dikabarkan menekan agar serangan dilakukan segera setelah pemilu sela AS, sementara Trump lebih memilih untuk membiarkan jalur diplomasi terbuka. Diskusi tersebut dilaporkan berlangsung alot, dengan sumber Israel menggambarkan seruan Netanyahu sebagai hal yang "sulit" diterima, sementara sumber AS menyebutnya "langsung" dan tegas.

Dalam situasi yang memanas ini, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyatakan harapan agar pihak-pihak terkait dapat menerapkan rasionalitas dan memilih jalur diplomasi. Namun, ia secara tegas menggarisbawahi bahwa Iran tetap dalam kondisi siap siaga penuh untuk melakukan pertahanan diri. Pergeseran ancaman ini memberikan sinyal kuat kepada pasar dan komunitas internasional bahwa stabilitas keamanan di kawasan Timur Tengah tetap rentan, dengan dampak potensial yang akan dirasakan melalui jalur pasokan energi global, mengingat peran strategis Selat Hormuz yang sempat ditutup dalam fase awal konflik ini.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ