IHSG Tembus Level 5.000, Saham ASII hingga BBCA Jadi Penopang Utama

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di zona merah pada perdagangan Jumat (30/10) dengan penurunan 0,80% ke level 5.057,05. Di tengah tekanan yang menghantam pasar, saham ASII, BBCA, dan BBNI justru memberikan kontribusi positif sebagai penopang utama indeks. Kehadiran saham-saham blue chip ini menjadi krusial untuk menahan pelemahan setelah sembilan dari 11 sektor yang diperdagangkan tercatat melemah. Secara keseluruhan, investor asing mencatatkan jual bersih cukup signifikan, yakni Rp172,43 miliar di pasar reguler dan Rp140,27 miliar di seluruh pasar, menunjukkan sentimen risk-off yang masih mewarnai pergerakan pasar domestik.
Dampak Kebijakan BEI dan Sentimen Global
Tekanan terhadap IHSG tidak hanya datang dari sentimen global, di mana Dow Jones turun 1,09% dan Nasdaq terkoreksi 2,86%, tetapi juga diwarnai oleh perubahan aturan di dalam negeri. Mulai 2 November, Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi menerapkan kebijakan pengecualian saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi dari perhitungan IHSG. Kebijakan ini berpotensi mengubah komposisi serta bobot saham dalam indeks, sehingga analis perlu memantau dampaknya terhadap revaluasi nilai saham-saham konstituen. Sektor transportasi menjadi yang paling tertekan dengan penurunan 3,13%, sementara sektor kesehatan masih mampu catat penguatan tertinggi sebesar 0,76%.
Proyeksi Menguatnya GOTO dan WIFI
Di balik pelemahan indeks, sejumlah emiten mencatatkan kinerja fundamental yang menggembirakan. GOTO berhasil membukukan laba bersih Rp441,00 miliar pada kuartal III 2026, menandai laba tiga kuartal berturut-turut. Bisnis finansial GoPay menjadi pendorong utama dengan pendapatan melonjak 49% secara tahunan. Seiring dengan itu, emiten telekomunikasi WIFI juga menunjukkan pertumbuhan agresif dengan pendapatan meningkat 192% secara tahunan ditopang oleh ekspansi bisnis fiber-to-the-home (FTTH). Kedua perusahaan ini diperkirakan akan menjadi fokus investor yang mencari potensi nilai tambah di tengah koreksi pasar.
Selain itu, PTPS mengumumkan dividen tunai interim sebesar Rp2 per saham dengan cum date pada 5 November 2026. Para analis memberikan rekomendasi teknis untuk beberapa saham seperti TINS, PTBA, dan AADI yang dianggap memiliki peluang cuan berdasarkan level beli dan target harga yang ditetapkan. Meskipun demikian, investor disarankan untuk tetap memperhatikan dislaimers yang menyatakan bahwa segala analisis bersifat informatif dan bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Diversifikasi portofolio dan pemahaman terhadap kebijakan baru BEI menjadi kunci dalam menghadapi volatilitas pasar saat ini.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Rupiah Mulai Menguat: Nilai Tukar Diwarnai Aksi Jual Investor Asing dan Ekspektasi Perang AS-Iran

IHSG Berada di 5.014, Pasar Ekuitas Indonesia Berupaya Pulih di Tengah Tekanan Global
