Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Ekspor Nikel Tembus 40 Miliar Dolar, Bahlil Klaim Indonesia Jadi Percontohan Industri Baterai Terintegrasi Global

Berita NasionalRina WijayaRina WijayaSumber: Antara News
Rina Wijaya
Rina Wijaya
Jurnalis Investigasi

Fokus pada liputan mendalam dan isu-isu sosial yang berdampak pada masyarakat luas.

Ekspor Nikel Tembus 40 Miliar Dolar, Bahlil Klaim Indonesia Jadi Percontohan Industri Baterai Terintegrasi Global
BAGIKAN:

Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa Indonesia kini berhasil membangun ekosistem industri hilirisasi nikel yang terintegrasi penuh, mencakup rantai pasok dari penambangan hingga produksi sel baterai mobil listrik. Pernyataan ini dilontarkan dalam acara pembukaan Mineral and Batubara Convention and Exhibition (Minerba Convex) 2026 di Jakarta, sekaligus menandai lompatan strategis bangsa dalam menggeser posisi dari pengekspor bahan mentah menjadi produsen produk akhir bernilai tinggi.

Bahlil, yang juga merangkap jabatan sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), mengurai bahwa keberhasilan ini merupakan buah dari konsistensi kebijakan pemerintah. Saat ini, Indonesia telah mengoperasikan tiga pabrik baterai strategis. Dua di antaranya sudah aktif, yaitu pabrik di kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) di Halmahera Tengah, Maluku Utara, dan fasilitas milik Hyundai LG Indonesia (HLI) Green Power di Karawang, Jawa Barat, yang beroperasi sejak Juli 2024. Fasilitas ketiga, hasil kerja sama antara Antam dan perusahaan baterai asal Tiongkok, CATL, di Karawang dijadwalkan akan diresmikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto pada bulan ini.

Transformasi Nilai Tambah dan Lonjakan Ekspor

Keseriusan hilirisasi ini tercermin secara jelas dalam data ekonomi yang meroket. Bahlil mencatat, nilai ekspor nikel Indonesia melonjak drastis dari 3,3 miliar dolar AS (setara Rp60 triliun) pada 2017 menjadi 40 miliar dolar AS (Rp727,32 triliun) pada tahun 2025. Lonjakan ini membuktikan bahwa pendekatan industrialisasi, bukan sekadar penjualan komoditas, adalah kunci untuk memaksimalkan pendapatan negara.

  • Nilai ekspor nikel 2017: 3,3 miliar dolar AS
  • Nilai ekspor nikel 2025: 40 miliar dolar AS
  • Realisasi ekspor per Agustus 2026: 25,96 miliar dolar AS (sekitar Rp472 triliun)
Secara khusus, Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM mencatat bahwa hingga Agustus 2026, nilai ekspor nikel sudah mencapai 25,96 miliar dolar AS atau sekitar Rp472 triliun dengan asumsi kurs Rp18.183 per dolar AS, menunjukkan momentum positif yang terus berkelanjutan di tengah target PNBP sektor minerba yang ambisius.

Strategi Jangka Panjang dan Dampak Industri

Menurut Bahlil, tanpa kebijakan hilirisasi dan industrialisasi yang masif, penciptaan nilai tambah bagi negara tidak akan mencapai titik maksimal. Keberadaan industri baterai terintegrasi ini tidak hanya mendongkrak angka ekspor, tetapi juga memperkuat posisi tawar Indonesia di mata rantai pasok global teknologi energi terbarukan.

Langkah ini diharapkan menjadi katalisator bagi industri turunan lainnya, mulai dari manufaktur kendaraan listrik hingga pengelolaan limbah baterai. Keberhasilan mengintegrasikan tambang, smelter, dan pabrik baterai dalam satu ekosistem menjadi preseden penting, membuktikan bahwa visi kedaulatan industri berbasis sumber daya alam Indonesia dapat terwujud secara nyata dan menguntungkan bagi fiskal negara.

BERITA TERKAIT (Berita Nasional)

Meow! Tanya Nesi!
😸