Ekspor E-Commerce Korsel Tembus Rekor Q3 2026, Kosmetik Jadi Andalan Utama

Kementerian Data dan Statistik Korea Selatan baru saja merekam angka mengejutkan di mana nilai penjualan daring langsung luar negeri negara tersebut melonjak signifikan. Pada kuartal ketiga 2026 (Juli-September), total nilai transaksi ini tercatat sebesar 1,09 triliun won, menandai pertumbuhan 40,7 persen secara year-on-year. Pencapaian ini bukan hanya memecahkan rekor kuartal ketiga tertinggi sejak 2020, tetapi juga mengindikasikan kuatnya daya sait produk digital dan fisik Korsel di pasar global.
Diantara total tersebut, kategori penjualan bebas bea (duty-free) secara daring menunjukkan performa paling agresif dengan peningkatan fantastis sebesar 90,5 persen menjadi 371,7 miliar won. Dari total keseluruhan penjualan luar negeri, dominasi sektor kreatif dan gaya hidup sangat terlihat. Berikut rincian kategori tertinggi yang mendominasi pasar e-commerce global Korsel:
- Kosmetik: Menjadi pemimpin mutlak dengan nilai 636,3 miliar won.
- Pakaian & Fesyen: Menyumbang 92,3 miliar won.
- Musik, Video & Alat Musik: Berkontribusi sebesar 84,4 miliar won.
Sektor Kosmetik Menekan Dominasi E-Commerce Bebas Bea
Perluasan pasar e-commerce Korsel sangat ditopang oleh segmen kosmetik yang tak tergoyahkan. Pada nilai penjualan bebas bea daring yang melonjak ke angka 371,7 miliar won, sektor kosmetik kembali menjadi motor penggerak utama dengan kontribusi sebesar 306 miliar won. Hal ini menunjukkan bahwa produk kecantikan asal Korea (K-beauty) masih memiliki permintaan yang sangat tinggi di kalangan konsumen internasional, khususnya melalui kanal belanja daring yang kini terintegrasi dengan kebijakan bebas bea.
Impor Daring Melambat Akibat Dolar AS
Sementara ekspor tumbuh dua digit, sisi impor atau pembelian daring langsung luar negeri oleh warga Korsel justru menunjukkan tren perlambatan. Total nilai pembelian ini menyusut 6,3 persen menjadi 1,99 triliun won, menandai penurunan kuartalan untuk kedua kalinya berturut-turut. Analis mengaitkan perlambatan ini dengan dampak berkepanjangan dari kekuatan dolar AS yang tinggi pada awal kuartal ketiga 2026, yang membuat belanja di luar negeri menjadi lebih mahal bagi konsumen lokal. Pola belanja menunjukkan pergeseran preferensi; meskipun pembelian langsung barang olahraga dan rekreasi berhasil tumbuh dua digit, konsumsi untuk pakaian, fesyen, dan kosmetik justru menurun dua digit secara tahunan, mengakhiri kuartal dengan keseimbangan ekspor-impor yang lebih menguntungkan bagi pelaku industri domestik.
BERITA TERKAIT (Ekonomi)

AIA Syariah Resmi Beroperasi Penuh, Perkuat Ekosistem Asuransi Berbasis Islam di Indonesia

Inflasi Melandai ke 3,23 Persen, Bank Danamon Proyeksikan BI-Rate Stabil di 6,25 Persen hingga Akhir 2026

Cegah Gas Stranded: Pertamina EP Jambi dan PGN Teken Kontrak Rp1,6 Triliun Suplai 5 MMSCFD untuk Industri Sumatra
