Ekspor DKI 9 Bulan 2026 Turun 3,95 Persen, Andalkan Sektor Non-Migas
Mengamati dinamika politik nasional dan kebijakan pemerintah secara kritis.

Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta mencatat bahwa nilai ekspor kumulatif Jakarta pada periode Januari-September 2026 mencapai 12,29 miliar dolar AS. Angka ini menunjukkan kontraksi sebesar 3,95 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Kepala BPS DKI Jakarta, Kadarmanto, menjelaskan bahwa kontribusi terbesar datang dari sektor non-migas dengan nilai 12,25 miliar dolar AS, sementara ekspor migas tercatat sebesar 51,32 juta dolar AS atau naik 93,15 persen.
Penurunan signifikan pada sektor non-migas menjadi faktor utama yang memengaruhi kinerja ekspor Jakarta secara keseluruhan. Berdasarkan data BPS, ekspor non-migas hasil industri pengolahan mengalami penurunan sebesar 412,83 juta dolar AS atau 3,35 persen. Sektor ini memiliki andil sebesar 96,77 persen terhadap total ekspor non-migas, sehingga menjadi pendorong utama turunnya nilai ekspor sepanjang 9 bulan pertama 2026.
Rincian Dampak Penurunan Sektor Strategis
Kondisi ini juga diikuti oleh penurunan di sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang turun sebesar 147,60 juta dolar AS (40,64 persen). Namun, tidak semua sektor mengalami kerugian; ekspor hasil pertambangan dan lainnya justru naik sebesar 30,49 juta dolar AS atau 30,53 persen. Kadarmanto merinci bahwa komoditas logam mulia dan perhiasan permata mengalami penurunan tajam sebesar 16,78 persen, diikuti oleh alas kaki yang turun 8,76 persen. Data ini mengindikasikan pergeseran dinamika pasar yang memerlukan perhatian khusus dari pelaku industri.
Untuk periode bulanan, nilai ekspor pada September 2026 tercatat sebesar 1,24 miliar dolar AS, yang terkontraksi sebesar 19,76 persen dibandingkan September 2025. Kontraksi bulan ini terutama didorong oleh penurunan ekspor non-migas sebesar 305,69 juta dolar AS (19,73 persen) dan ekspor migas yang turun 1,03 juta dolar AS (39,92 persen). Komoditas logam mulia dan perhiasan permata kembali menjadi sorotan dengan penurunan ekstrem sebesar 86,98 persen pada bulan tersebut.
Prospek dan Strategi Penyesuaian Industri
Dalam rangka menjaga stabilitas ekonomi daerah, pemerintah DKI Jakarta perlu mengevaluasi kinerja sektor pengolahan yang mendominasi peta ekspor. Mengingat besarnya andil sektor ini, pemulihan nilai ekspor secara keseluruhan sangat bergantung pada peningkatan daya saing industri pengolahan. Penurunan tajam pada komoditas logam mulia menunjukkan potensi disrupsi pasar yang harus diantisipasi dengan kebijakan strategis. Dengan adanya tren positif pada sektor pertambangan, diversifikasi sumber ekspor menjadi langkah logis untuk meminimalkan risiko fluktuasi pasar di tahun depan.
BERITA TERKAIT (Berita Nasional)

Kemenhut Gagalkan Pengiriman 343 Batang Kayu Liar Meru Betiri ke Bali

Dishub DKI Perluas Layanan Kapal Gratis untuk Pelajar SMKN 61 di Kepulauan Seribu

Ombudsman Ingatkan Polri: Penggeledahan Harus Hormati HAM dan Lindungi Anak
