Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Bukan Erupsi, Curah Hujan Ekstrem Jadi Pemicu Utama Banjir Lahar Dingin Semeru

Berita NasionalBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Teknologi
Budi Santoso
Budi Santoso
Pimpinan Redaksi

Jurnalis senior dengan pengalaman 15 tahun meliput isu politik dan berita nasional di Indonesia.

Bukan Erupsi, Curah Hujan Ekstrem Jadi Pemicu Utama Banjir Lahar Dingin Semeru
BAGIKAN:

Antisipasi korban jiwa dan kerusakan infrastruktur akibat letusan gunung perlu digeser ke arah mitigasi hidro-meteorologi. Daryono, anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), menegaskan bahwa banjir lahar dingin yang melanda wilayah Lumajang dipicu oleh curah hujan ekstrem sejak 1 November 2026, bukan aktivitas erupsi baru. Laporan telemetri menunjukkan curah hujan harian sangat tinggi yang menggerus endapan vulkanik, memicu banjir bandang dan tanah longsor di alur sungai yang berhulu dari Gunung Semeru.

Mekanisme ini penting untuk dipahami publik karena mematahkan asumsi umum bahwa banjir lahar selalu mengikuti erupsi. Daryono menjelaskan, hujan lebat mampu mengerosi dan mengangkut material vulkanik yang telah terendapkan di lereng maupun alur sungai, sehingga memicu bencana tanpa adanya letusan. Fakta ini mengubah paradigma penanganan bencana alam di kawasan vulkanik aktif.

Kronologi Terjadi dan Dampak Kerusakan di Lapangan

Hujan intensitas tinggi sejak 1 November 2026 malam hingga pagi hari memicu aliran lahar hujan di sejumlah alur sungai. Di kawasan Curah Kobokan, aliran lahar membawa material vulkanik berupa pasir, kerikil, hingga bongkah batu berukuran besar. Selain itu, terjadi tanggul jebol dan luapan banjir yang mengancam permukiman di wilayah Tempursari. Luapan Sungai Glidik yang berhulu di kawasan Semeru juga mengalami peningkatan debit air secara signifikan, memperparah kondisi banjir.

Imbasnya, jaringan konektivitas terputus. Satriyo Nurseno, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Jawa Timur, melaporkan bahwa jembatan penghubung Malang dan Lumajang tidak dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat. Beberapa desa di Kecamatan Tempursari tergenang akibat luapan Sungai Rawaan dan Sungai Dol, sementara tanggul jebol tercatat di kawasan Wareng dan Dusun Pasirejo.

Implikasi Mitigasi dan Tanggap Darurat

Kepanikan harus diganti dengan kesiapsiagaan berbasis risiko. Daryono menekankan pentingnya penguatan sistem peringatan dini, pemeliharaan sabo dam, dan penataan ruang berbasis risiko untuk menekan angka kerugian di tengah potensi hujan ekstrem yang masih berlanjut. Mitigasi harus dilakukan sebelum bencana menimbulkan kerusakan masif, bukan hanya reaktif setelahnya. Kewaspadaan tinggi tetap menjadi kunci utama dalam mengurangi risiko korban jiwa.

Kondisi darurat saat ini melibatkan lebih dari seribu jiwa yang terdampak langsung di dua kecamatan berbeda. Respons cepat BPBD Jawa Timur difokuskan pada evakuasi dan penyediaan logistik bagi warga yang terisolasi akibat putusnya akses jalan dan jebolnya tanggul. Pihak berwenang mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi hujan lebat di kawasan lereng Semeru.

BERITA TERKAIT (Berita Nasional)

Meow! Tanya Nesi!
😸