BPS Catat Inflasi Sumsel Capai 2,87 Persen per Tahun, Gagal Panen Jadi Pemicu Utama
Jurnalis senior dengan pengalaman 15 tahun meliput isu politik dan berita nasional di Indonesia.

- Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) merekam laju inflasi yang mencapai 0,44 persen secara bulanan pada Oktober 2026.
- Kepala BPS Sumsel, Moh Wahyu Yulianto , menegaskan bahwa tekanan harga ini bukan sekadar fluktuasi musiman, melainkan dampak struktural dari dinamika pasokan pangan di tingkat nasional.
- Kenaikan harga pangan menjadi pemicu utama, di mana kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 1,28 persen dengan andil 0,41 persen terhadap total inflasi bulanan.
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) merekam laju inflasi yang mencapai 0,44 persen secara bulanan pada Oktober 2026. Angka ini didorong oleh kenaikan harga komoditas pangan strategis, yang membuat inflasi secara tahun kalender (year to date/ytd) menembus 2,34 persen dan secara tahunan (year on year/yoy) tercatat di posisi 2,87 persen. Kepala BPS Sumsel, Moh Wahyu Yulianto, menegaskan bahwa tekanan harga ini bukan sekadar fluktuasi musiman, melainkan dampak struktural dari dinamika pasokan pangan di tingkat nasional.
Kenaikan harga pangan menjadi pemicu utama, di mana kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 1,28 persen dengan andil 0,41 persen terhadap total inflasi bulanan. Komoditas seperti beras, cabai merah, dan bawang merah naik signifikan akibat kombinasi gagal panen, faktor cuaca, serta kebijakan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang memengaruhi mekanisme pasar.
Dinamika Pasokan dan Komoditas Pangan
Sumsel, yang dikenal sebagai lumbung pangan nasional, justru menghadapi dilema alih pasokan. Sebagian besar hasil produksi beras dari daerah ini didistribusikan ke provinsi lain, sehingga memicu persaingan antardaerah dalam memperebutkan pasokan. Kondisi ini secara langsung menyusutkan ketersediaan beras untuk konsumsi lokal, yang berujung pada lonjakan harga di pasar. Moh Wahyu Yulianto menjelaskan, "Memang harga beras mengalami kenaikan, kemudian komoditas hortikultura seperti bawang merah, cabai rawit, dan cabai merah juga mengalami kenaikan akibat gagal panen dan faktor cuaca." Keterbatasan pasokan ini membuat permintaan lokal tak terkelola dengan baik sehingga harga terus terdongkrak.
Berdasarkan data BPS, lima komoditas utama yang paling menyumbang inflasi bulanan di Sumsel adalah:
- Cabai merah
- Cabai rawit
- Beras
- Tomat
- Sawi putih
Secara kumulatif, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi tahunan tertinggi sebesar 4,52 persen dengan andil 1,40 persen. Disusul oleh kelompok transportasi sebesar 3,86 persen dengan andil 0,50 persen, serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 3,52 persen dengan andil 0,31 persen.
Antisipasi Puncak Inflasi Menjelang Akhir Tahun
Memasuki dua bulan terakhir tahun 2026, BPS mengantisipasi potensi lonjakan harga yang lebih tajam pada bulan Desember. "Inflasi kita sampai dengan Januari-Oktober itu sudah 2,34 persen. Masih ada dua bulan lagi, November dan Desember. Biasanya potensi kenaikannya tinggi pada Desember," ujar Moh Wahyu Yulianto. Lonjakan permintaan di akhir tahun, seperti Natal dan Tahun Baru, berisiko memperburuk kelangkaan pasokan yang sudah terjadi sejak Oktober.
Karena itu, pemerintah daerah diinstruksikan untuk memperkuat pengendalian pasokan dan memperketat pemantauan harga di pasaran. Langkah strategis ini sangat krusial untuk menstabilkan harga dan melindungi daya beli masyarakat. BPS menekankan pentingnya koordinasi lintas sektoral antara petani, distributor, dan pemerintah daerah agar lonjakan pasokan akibat kegagalan panen di sektor hortikultura dapat segera diatasi sebelum menyentuh puncak musim konsumsi akhir tahun.
BERITA TERKAIT (Berita Nasional)

Kemnaker Buka Gelombang Terakhir Registrasi Pelatihan Vokasi Nasional Batch 7, Deadline 11 November

BPS Catat Lonjakan Harga Cabai 23,47 Persen, Ancam Stabilitas Inflasi Pangan Nasional

DKI Hadapi Tantangan Infrastruktur: Dari Darurat Air Angke hingga Akuisisi Lahan Pemprov
