BMKG: Angin Kencang dan Siklon 91B Picu Gelombang Tinggi di Perairan Sumut
Fokus pada liputan mendalam dan isu-isu sosial yang berdampak pada masyarakat luas.

- Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengimbau kewaspadaan tinggi bagi pelaut di sejumlah perairan Sumatera Utara pada 3–6 November 2026.
- Potensi gelombang tinggi dipicu oleh interaksi berbagai dinamika atmosfer, termasuk aktifnya bibit siklon 91B di Laut Andaman dan pola angin kencang yang dapat mengganggu aktivitas pelayaran secara signifikan.
- Peringatan tersebut disampaikan oleh Rizki Fadhillah Pratama Putra , Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Maritim Belawan, di Medan.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengimbau kewaspadaan tinggi bagi pelaut di sejumlah perairan Sumatera Utara pada 3–6 November 2026. Potensi gelombang tinggi dipicu oleh interaksi berbagai dinamika atmosfer, termasuk aktifnya bibit siklon 91B di Laut Andaman dan pola angin kencang yang dapat mengganggu aktivitas pelayaran secara signifikan.
Peringatan tersebut disampaikan oleh Rizki Fadhillah Pratama Putra, Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Maritim Belawan, di Medan. Ia menegaskan bahwa kondisi cuaca ekstrem ini memerlukan perhatian khusus dari sektor perikanan dan transportasi laut mengingat potensi gangguan keselamatan yang nyata.
Mekanisme Meteorologis dan Ambang Batas Waspada
Berdasarkan analisis teknis, fenomena ini dipicu oleh aktifnya bibit siklon 91B di Laut Andaman serta Gelombang Kelvin yang terdeteksi aktif di wilayah Aceh. Kombinasi tersebut didukung oleh daerah belokan angin dan konvergensi yang memicu aktivitas konvektif. Selain itu, suhu muka laut yang hangat di Samudra Hindia barat, perairan utara dan timur Aceh, serta wilayah Sumatera berpotensi meningkatkan kandungan uap air, sehingga berkontribusi pada pembentukan awan hujan yang padat. Pola angin di perairan Aceh tercatat bergerak dari arah tenggara-barat daya dengan kecepatan 03–25 knot.
Untuk menjamin keselamatan, Rizki merinci ambang batas risiko secara spesifik bagi para operator kapal:
- Nelayan dengan perahu: Waspada jika kecepatan angin mencapai 15 knot dan tinggi gelombang 1,25 meter.
- Kapal tongkang: Waspada jika kecepatan angin mencapai 16 knot dan tinggi gelombang 1,5 meter.
Implikasi bagi Sektor Maritim dan Langkah Kewaspadaan
Langkah preventif ini krusial karena gelombang tinggi secara langsung mengganggu rute pelayaran reguler dan aktivitas mencari ikan. Nelayan yang mengoperasikan perahu kecil serta operator kapal tongkang diimbau untuk melakukan penyesuaian jadwal atau penundaan pelayaran selama periode 3–6 November. Kesesuaian data teknis dari BMKG menjadi acuan utama bagi otoritas maritim dalam mengatur lalu lintas kapal guna menghindari insiden di tengah kondisi laut yang tidak stabil tersebut.
BERITA TERKAIT (Berita Nasional)

DPR Desak Penegakan Hukum Transparan atas Dugaan Penyadapan Ilegal Presiden Prabowo

Tiga Jenderal Aktif Resmi Tersangka Kasus Penyadapan Ilegal Presiden Prabowo, Bareskrim Periksa Satu Saksi Kunci Berinisial SU

Sjafrie Sjamsoeddin Perintahkan Prajurit Yonif TP Siap Tempur dan Membangun di 514 Kabupaten
