Bank Sentral China Suntikkan Rp1.474 Triliun, Suku Bunga Acuan Berpindah ke Tenor One Day
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Bank Rakyat China (PBOC) resmi menggeser suku bunga kebijakan utamanya ke tenor satu hari atau overnight dengan menyuntikkan dana sebesar 541 miliar yuan, setara dengan Rp1.474 triliun, ke sistem perbankan. Langkah ini dilakukan melalui instrumen reverse repo tenor satu hari dengan menetapkan suku bunga 1,25%. Perubahan kerangka operasional ini secara efektif menurunkan batas bawah koridor suku bunga China sebesar 15 basis poin, yang bertujuan untuk melonggarkan kondisi pendanaan dan menekan biaya pinjaman di tengah gejolak pasar keuangan.
Kepala Ekonom CITIC Securities, Ming Ming, menyatakan bahwa penetapan angka 1,25% mengonfirmasi tolok ukur biaya pendanaan yang ada saat ini. Marco Sun, Kepala Analis Pasar Keuangan MUFG China, menilai langkah tersebut menunjukkan arah kebijakan moneter yang mendorong suku bunga jangka pendek ke tingkat lebih rendah. Meski bukan merupakan pemangkasan suku bunga konvensional, kebijakan ini dinilai dapat menekan imbal hasil obligasi sekaligus mengurangi beban biaya pendanaan bagi lembaga keuangan di China.
Zhaopeng Xing, pakar strategi senior China di ANZ, memandang kebijakan ini setara dengan pemangkasan suku bunga 15 basis poin yang ditujukan bagi lembaga keuangan. Ia membandingkannya seperti "angpau" yang dapat meningkatkan margin bunga bersih sekitar 5 basis poin. Tujuan utamanya adalah untuk menstabilkan profitabilitas di sektor keuangan serta memperkuat kapasitas sektor tersebut dalam menyerap risiko. Namun, Xing memperkirakan bahwa dampak dari langkah ini terhadap pasar saham tidak akan signifikan.
Langkah pelonggaran ini diambil di tengah kekhawatiran kredit terhadap Zhuhai Huafa Group, sebuah pengembang milik negara, yang sebelumnya mengguncang pasar obligasi. Kondisi tersebut menambah tekanan bagi pemerintah untuk memulihkan kepercayaan investor. Secara terpisah, sejumlah regulator China, termasuk bank sentral, dilaporkan akan bertemu dengan lembaga keuangan guna membahas instrumen pendukung pasar modal. Meskipun demikian, analis Citi menilai perubahan ini merupakan penyesuaian berdasarkan mekanisme pasar (mark-to-market), bukan pemangkasan suku bunga secara de facto. Mereka tidak memperkirakan penurunan Loan Prime Rate (LPR) pada November ini dan memprediksi pemangkasan suku bunga lebih lanjut baru kemungkinan terjadi pada tahun 2027.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Bandingkan Laba Kuartal III-2026, Alfamart Unggul 3,7 Kali Lipat dari Indomaret

Wamenlu AS Jacob Helberg Dorong Investasi Energi dan Teknologi RI Senilai US$2 Miliar

Wamenlu AS Diskusikan Deal Energi & Teknologi US$2 Miliar dengan Danantara di Jakarta
