Senin, 2 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

ASEAN Butuh US$400 Miliar per Tahun untuk Wujudkan Transisi Energi

Ekonomi & PasarHendra GunawanHendra GunawanSumber: CNN Ekonomi
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

ASEAN Butuh US$400 Miliar per Tahun untuk Wujudkan Transisi Energi
BAGIKAN:

Kawasan Asia Tenggara menghadapi tantangan finansial masif dalam upaya transformasi sektor energi, di mana estimasi kebutuhan investasi mencapai US$400 miliar atau setara Rp7.252 triliun (kurs Rp18.130 per dolar AS) setiap tahunnya. Angka tersebut merupakan proyeksi yang diperlukan agar negara-negara anggota dapat memenuhi target transisi energi yang telah ditetapkan, sebagaimana diungkapkan oleh Zulfikar Yurnaidi, Head of Energy Modelling and Policy Planning ASEAN Centre for Energy (ACE).

Lonjakan Kebutuhan dan Strategi Mitigasi

Studi ASEAN Energy Outlook ke-9 memproyeksikan bahwa permintaan energi primer di kawasan ini akan mengalami peningkatan signifikan, yakni melonjak hingga 400 persen atau empat kali lipat dari kondisi saat ini hingga tahun 2060. Menyikapi potensi lonjakan tersebut, ACE telah merumuskan sejumlah skenario strategis untuk menekan beban energi, yang mencakup penerapan efisiensi energi, optimalisasi pemanfaatan sumber daya terbarukan, serta percepatan elektrifikasi. Zulfikar meyakini bahwa implementasi langkah-langkah tersebut berpotensi memangkas kebutuhan energi primer hingga separuh dari proyeksi awal.

  • Kebutuhan investasi tahunan: US$400 miliar (Rp7.252 triliun).
  • Proyeksi lonjakan energi primer: 400 persen hingga tahun 2060.
  • Strategi utama: Efisiensi, energi terbarukan, dan elektrifikasi.

Peran Diplomatik dalam Harmonisasi Kepentingan

Implementasi skenario yang disebut sebagai ASEAN Coordinated Transition Scenario menuntut koordinasi intensif antarnegara anggota, mengingat setiap negara memiliki agenda kepentingan nasional yang berbeda. Dalam konteks ini, ACE tidak hanya berperan sebagai lembaga pemikir (think tank) yang melakukan analisis teknis, tetapi juga mengambil fungsi diplomatik untuk menjembatani kesenjangan pandangan. Zulfikar menegaskan bahwa tugas utama lembaga tersebut adalah meyakinkan negara-negara seperti Indonesia, Singapura, dan Malaysia bahwa kepentingan nasional masing-masing sejalan dengan tujuan regional, dengan prinsip dasar transisi energi yang berpusat pada ketahanan energi sekaligus menyeimbangkan upaya dekarbonisasi.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ