Deadlock Parlemen Israel: 53 vs 48 Kursi Hantui Opsi Koalisi
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Proses pemilihan umum di Israel telah berakhir dengan hasil stalemate yang membelenggu stabilitas politik negara tersebut. Ketidakmampuan kedua kubu utama untuk mencapai mayoritas absolut di Knesset beranggotakan 120 kursi membuka peluang terjadinya ketidakpastian politik selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan ke depan. Dengan tidak adanya pemenang yang jelas, arena politik Israel kini memasuki fase kritis di mana manuver koalisi menjadi satu-satunya jalan untuk menghindari pemungutan suara ulang.
Angka Kritis dan Batas Waktu Manuver
Hasil penghitungan menunjukkan dua blok tandingan yang gagal menembus ambang batas 61 kursi yang diperlukan untuk membentuk pemerintah. Blok yang dipimpin Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dari partai Likud, yang berhaluan sayap kanan, hanya berhasil mengamankan 53 kursi. Di sisi lain, blok oposisi yang dipimpin Gadi Eisenkot melalui partai tengah Yashar meraih 48 kursi. Terdapat pula gabungan partai Arab yang sukses memperebutkan 19 kursi di parlemen.
- Setiap pimpinan partai memiliki tenggat waktu 12 minggu untuk merumuskan kesepakatan koalisi.
- Gagalnya perundingan dalam waktu tersebut akan memaksa Israel kembali ke kotak suara.
- Blok Netanyahu masih kekurangan delapan kursi untuk mencapai mayoritas mutlak.
Empat Skenario Keluar dari Jalan Buntu
Peta jalan keluar dari deadlock ini menghadapi hambatan serius terkait dinamika aliansi lintas etnis dan loyalitas antarpartai. Opsi kerja sama antara faksi Yahudi dan Arab dianggap sebagai jalan paling pasti bagi oposisi, namun ditentang keras oleh dua pemimpin sayap kanan, Naftali Bennett dan Avigdor Liberman, yang menolak ketergantungan pada partai Joint List dan Raam. Sejarah mencatat bahwa hanya koalisi delapan partai tahun 2021 yang melibatkan partisipasi penuh partai Arab (Raam) yang berhasil menggulingkan Netanyahu, meski pemerintahan tersebut runtuh setelah satu tahun.
Alternatif lainnya adalah pembentukan pemerintahan persatuan yang melibatkan Likud dan mitra koalisi saat ini. Netanyahu diyakini bersedia melepas posisi Menteri Pertahanan dari sosok sayap kanan ekstrem, Ben Gvir, namun bersikeras mempertahankan Menteri Keuangan, Bezalel Smotrich, serta partai ultra-Ortodoks. Namun, jalur ini tertutup karena Eisenkot menolak keras untuk duduk bersama Netanyahu demi menghindari label pengkhianat. Skenario pemecahan blok oposisi juga terkendala karena empat pemimpin utama (Eisenkot, Bennett, Liberman, dan Yair Golan) menyatakan tidak akan bekerja sama dengan Netanyahu. Dengan defisit delapan kursi, upaya membujuk legislator untuk membelot menjadi tantangan yang sangat berat. Jika semua opsi ini gagal, pemilihan umum kembali menjadi konsekuensi logis.
BERITA TERKAIT (Dunia)

Mamdani Kecam Haley Stevens: Dukungan Kandidat Republik Jadi Pengkhianatan Kelas Pekerja

Trump dan Netanyahu Bahas Serangan Iran di Tengah Penurunan Populeritas Politik Keduanya

Pesawat Penumpang Runtuh Dekat Mar-a-Lago, Sembilan Nyawa Tak Terselamatkan
