APCONF6 Bali Tutup Usia 15 Tahun, KKP Jadikan Masyarakat Pesisir Garda Depan Pelestarian Laut
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menetapkan masyarakat pesisir sebagai aktor utama dalam upaya pemetaan, riset, serta perlindungan situs-situs bersejarah di dasar laut Indonesia. Langkah strategis ini digulirkan bersamaan dengan gelaran The 6th Asia-Pacific Conference on Maritime and Underwater Cultural Heritage (APCONF6) yang resmi berlangsung di Denpasar, Bali, pada 26-31 Oktober 2026.
Jejak Sejarah Bawah Air Sebagai Penggerak Ekonomi Biru
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menegaskan bahwa potensi perairan Nusantara melampaui sekadar kekayaan sumber daya alam. Ia menyoroti bahwa berbagai peninggalan bawah laut telah berfungsi sebagai habitat beragam biota sekaligus dikelola menjadi destinasi wisata bahari di sejumlah daerah. Oleh karena itu, ia mendorong agar forum internasional tersebut menjadi wadah pertukaran gagasan dan dialog kebijakan yang menyinergikan pelestarian warisan maritim dengan pembangunan ekonomi biru.
Dukungan terhadap penyelenggaraan APCONF6 melibatkan kolaborasi mitra dari dalam maupun luar negeri. Peserta yang hadir mencakup spektrum luas, mulai dari peneliti, akademisi, aparat pemerintah, komunitas pesisir, masyarakat adat, organisasi internasional, hingga pelaku usaha dan investor.
Bukti Nyata dari Tulamben dan Kearifan Lokal Nusantara
Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan Irwan Meilano memaparkan bahwa bangkai kapal kargo milik Angkatan Darat Amerika Serikat, yakni USAT Liberty di dasar laut Tulamben, Bali, membuktikan bagaimana situs bawah air mampu menopang kehidupan biota laut sekaligus menghidupkan sektor pariwisata. Menurutnya, peninggalan semacam ini merupakan jejak peradaban yang terikat erat dengan kelangsungan ekosistem dan penghidupan warga setempat.
Irwan juga menekankan urgensi penguatan pemantauan dan pemetaan situs untuk menghadapi ancaman perubahan iklim, pencemaran, serta kerusakan habitat. Dalam konteks pengelolaan laut yang bertanggung jawab, ia merujuk pada praktik kearifan lokal seperti sasi, Panglima Laot, dan awig-awig sebagai fondasi tradisi yang wajib terus dijaga keberlanjutannya.
- Pelaksanaan APCONF6 di Denpasar, Bali, berlangsung selama enam hari pada 26-31 Oktober 2026 dengan tema Traditions and Trajectories: Maritime Heritage and Blue Economies in Asia-Pacific.
- Situs USAT Liberty di Tulamben dijadikan contoh konkret integrasi antara pelestarian warisan bawah air, habitat biota, dan wisata bahari.
- Forum ini sekaligus menandai peringatan 15 tahun atau Crystal Anniversary APCONF yang pertama kali diinisiasi di Manila, Filipina, pada 2011.
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BPPSDM KP) I Nyoman Radiarta menambahkan bahwa warisan maritim merepresentasikan identitas, pengetahuan, serta hubungan lintas generasi antara manusia dan lingkungan perairannya. Melalui kolaborasi multipihak, ia berharap perlindungan terhadap aset yang unik dan terbatas ini dapat berjalan seiring dengan pengamanan masa depan lautan serta penciptaan mata pencaharian berkelanjutan bagi masyarakat pesisir.
Perhelatan di Bali kali ini menghadirkan momentum historis tersendiri dengan mengundang para pendiri dan ketua penyelenggara APCONF terdahulu dari berbagai wilayah, termasuk Manila, Hawaii, Hong Kong, Taiwan, Korea, dan Indonesia. Seluruh rangkaian kegiatan ini memperkuat komitmen KKP dalam menerapkan kebijakan ekonomi biru yang memadukan pendekatan ekologis dan nilai ekonomis secara seimbang.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Bandingkan Laba Kuartal III-2026, Alfamart Unggul 3,7 Kali Lipat dari Indomaret

Wamenlu AS Jacob Helberg Dorong Investasi Energi dan Teknologi RI Senilai US$2 Miliar

Wamenlu AS Diskusikan Deal Energi & Teknologi US$2 Miliar dengan Danantara di Jakarta
