IHSG Anjlok ke Level 4.993, Arus Modal Asing Keluar Rp126 Triliun Sepanjang Tahun

Ekonomi & Pasar
Hendra GunawanHendra Gunawan
Sumber: CNN Ekonomi & CNN Nasional & CNN Teknologi
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

IHSG Anjlok ke Level 4.993, Arus Modal Asing Keluar Rp126 Triliun Sepanjang Tahun
BAGIKAN:

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertekan tajam hingga menyentuh level 4.993 pada perdagangan Jumat (30/10) pagi, memperpanjang tren pelemahan yang berlangsung sepanjang pekan ini. Kombinasi antara kerentanan fiskal domestik, lonjakan harga minyak global, dan arus keluar modal asing secara masif menjadi pemicu utama terkikisnya valuasi pasar saham nasional.

Erosi Kepercayaan Investor dan Derasnya Arus Modal Keluar

Tekanan jual dari investor asing menjadi indikator paling nyata atas memburuknya sentimen pasar. Pendiri Republik Investir, Hendra Wardana, mencatat adanya aksi jual bersih senilai Rp1,51 triliun di pasar reguler hanya pada Kamis (29/10). Jika diakumulasikan sejak awal tahun berjalan, total dana asing yang ditarik dari pasar domestik telah menembus angka sekitar Rp126 triliun. Angka tersebut dinilai mencerminkan tingginya persepsi risiko yang melekat pada aset keuangan Indonesia saat ini.

Hendra menegaskan bahwa penurunan indeks bukan sekadar masalah koreksi harga saham, melainkan berakar pada krisis kepercayaan. Para pelaku pasar kini cenderung menahan pembelian dan mengurangi eksposur mereka terhadap instrumen keuangan dalam negeri. Ketidakpastian seputar evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI), minimnya transparansi kepemilikan saham, serta kualitas tata kelola dan mekanisme perdagangan menjadi sorotan utama yang membuat investor bersikap defensif.

  • IHSG merosot 2,04 persen atau 104,12 poin ke level 4.993 pada Jumat (30/10) pagi, setelah sempat anjlok 3,49 persen sehari sebelumnya.
  • Akumulasi penjualan bersih oleh investor asing sepanjang tahun berjalan mencapai sekitar Rp126 triliun.
  • Harga minyak dunia melonjak menembus US$101, meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk menopang fiskal negara.
  • OJK memiliki batas waktu hingga Juni 2027 untuk membenahi pasar modal sebelum menghadapi risiko penurunan status oleh MSCI.

Beban Ganda: Geopolitik Global dan Risiko Penurunan Kelas Pasar

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menyoroti bahwa beban IHSG tidak hanya berasal dari satu arah. Kenaikan harga minyak dunia yang melewati US$101 secara langsung mengerek kebutuhan dolar AS, yang pada gilirannya menambah tekanan terhadap postur fiskal Indonesia. Situasi ini diperparah oleh pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai potensi serangan besar-besaran terhadap Iran setelah pemilu 3 November, yang memicu kekhawatiran eskalasi geopolitik dan berpotensi mendorong indeks dolar AS semakin menguat.

Dari sisi regulasi internasional, ancaman degradasi status pasar modal Indonesia masih membayangi. Ibrahim menjelaskan bahwa Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebenarnya memiliki tenggat waktu yang cukup panjang hingga Juni 2027 untuk merealisasikan reformasi pasar. Apabila langkah pembenahan tersebut gagal memenuhi ekspektasi, pasar modal Indonesia terancam turun dua tingkat menjadi standalone market. Di samping itu, pasar juga tengah menanti rilis data inflasi yang apabila tercatat tinggi akan menambah bobot tekanan terhadap pergerakan indeks.

Pergerakan IHSG sepanjang pekan ini memperlihatkan volatilitas yang ekstrem. Setelah ditutup melemah 1,22 persen ke level 5.373 pada Senin (26/10) dan turun 1,99 persen ke posisi 5.266 pada Selasa (27/10), indeks sempat menguat tipis 0,31 persen pada Rabu (28/10). Namun, reli tersebut langsung terpatahkan oleh anjlokan 3,49 persen pada Kamis (29/10) ke posisi 5.098. Pada sesi pagi Jumat (30/10), indeks dibuka di 5.066, sempat naik ke 5.116, namun akhirnya tergelincir hingga titik terendah 4.979. Berdasarkan perbandingan penutupan Senin dengan posisi Jumat pagi, IHSG telah menyusut sekitar 7,1 persen. Kondisi ini semakin diperberat oleh daya tarik imbal hasil obligasi pemerintah AS yang tinggi serta ketidakpastian arah suku bunga The Federal Reserve, yang memicu pergeseran dana dari pasar negara berkembang menuju instrumen berbasis dolar.

Meow! Tanya Nesi!
😸