Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Pentagon Copot Perencana Militer di Tengah Wacana Serangan Baru ke Iran

DuniaSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Internasional & CNBC Indonesia
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Pentagon Copot Perencana Militer di Tengah Wacana Serangan Baru ke Iran
BAGIKAN:

Langkah tegas diambil oleh Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth dengan memberhentikan Letnan Jenderal Angkatan Darat Brett Sylvia dari jabatannya sebagai kepala strategi, perencanaan, dan kebijakan di Kepala Staf Gabungan. Pemecatan ini terjadi di tengah ketegangan diplomatik dan militer yang meningkat, menyusul indikasi dari Presiden Donald Trump mengenai kemungkinan peluncuran serangan baru terhadap Iran pasca-pemilu paruh waktu pada November 2026. Hingga saat ini, posisi strategis tersebut masih kosong dan belum ada penjelasan resmi mengenai alasan spesifik di balik keputusan tersebut.

Vakum Kepemimpinan Strategis di Pentagon

Menurut seorang pejabat pertahanan yang dikutip oleh Associated Press (AP), Sylvia merupakan jenderal kedua yang kehilangan posisi tersebut dalam waktu singkat. Pendahulunya, Letnan Jenderal Joseph McGee, telah dipaksa pensiun pada Oktober lalu. Sumber dari AP yang dikutip Times of Israel menegaskan bahwa belum ada pengganti untuk Sylvia dan tidak ada klarifikasi lebih lanjut mengenai motif pemecatannya. Juru bicara Staf Gabungan hanya mengonfirmasi pemecatan tersebut tanpa merinci detail, seraya menyampaikan ucapan terima kasih atas 32 tahun pengabdian Sylvia kepada bangsa Amerika.

  • Vakum Jabatan: Posisi kepala strategi, perencanaan, dan kebijakan Kepala Staf Gabungan kini kosong setelah Sylvia dipecat dan pendahulunya, Joseph McGee, pensiun paksa.
  • Ketidakjelasan: Belum ada pengganti yang ditunjuk dan tidak ada penjelasan resmi dari Pentagon mengenai alasan pemecatan Sylvia.
  • Konteks Waktu: Pemecatan terjadi saat AS dilaporkan memberi tahu negara-negara Arab untuk bersiap menghadapi aksi militer baru dalam waktu dekat.

Kritik Politik dan Dampak Ekonomi Konflik

Di sisi lain, mantan Presiden Barack Obama memanfaatkan momentum menjelang pemilu paruh waktu untuk melancarkan kritik tajam terhadap kebijakan Trump. Dalam kampanye Partai Demokrat di Morrow, Georgia, Obama menuding perang AS dan Israel melawan Iran sebagai keputusan fatal yang memperburuk keamanan nasional serta mendorong kenaikan harga energi dan biaya hidup. Obama hadir untuk mendukung Senator Jon Ossoff dan Keisha Lance Bottoms, dengan hasil pemilu yang akan menentukan penguasaan Kongres AS selama dua tahun ke depan.

Obama menilai konflik tersebut bertentangan dengan janji pemerintahan Trump dan memperingatkan bahwa perang belum benar-benar berakhir meskipun ada upaya gencatan senjata. Ia menyoroti menipisnya persediaan senjata Amerika, khususnya rudal pencegat Patriot, serta gangguan pada jalur strategis akibat penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Menurut Obama, situasi ini menjelaskan lonjakan harga minyak dan bahan bakar diesel yang membebani masyarakat. Selain isu keamanan, Obama juga mengkritik kebijakan tarif perdagangan Trump yang dianggap membebani konsumen, serta menyindir fokus Trump pada renovasi Gedung Putih di tengah krisis negara.

Meow! Tanya Nesi!
😸