Bahlil Bocorkan Pembentukan BUK Migas untuk Satu Pintu Perizinan

Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM Bahlil Lahadalia membeberkan rencana pembentukan Badan Usaha Khusus (BUK) Migas sebagai solusi struktural untuk memangkas birokrasi perizinan di sektor hulu migas. Kehadiran lembaga ini ditargetkan mengubah sistem perizinan yang selama ini tersebar di berbagai kementerian menjadi terpusat di satu pintu, sehingga mempercepat proses eksplorasi bagi perusahaan yang menggarap proyek di dalam negeri.
Percepatan Birokrasi dan Arah Kebijakan RUU Migas
Pembentukan BUK Migas berjalan seiring dengan penyusunan Rancangan Undang-undang (RUU) Migas. Bahlil mengungkapkan bahwa progres Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) untuk RUU tersebut telah mencapai 90 persen dan ditargetkan rampung dalam waktu dekat. Setelah selesai, pemerintah akan membawa pembahasan ke DPR RI, di mana kewenangan besar lembaga BUK, termasuk urusan perizinan, akan dituangkan secara resmi.
- Bertemu di acara FOREK Hulu Migas 2026, Jakarta Pusat, Rabu (28/10).
- Progres DIM RUU Migas mencapai 90 persen, hampir 100 persen.
- Tujuan utama: Memudahkan investor dengan perizinan satu pintu di BUK.
Konteks Historis: Dari Hambatan Investor ke Ekosistem Otomotif Listrik
Bahlil mengaitkan urgensi BUK Migas dengan pengalamannya sebelum menjabat Menteri ESDM, yaitu saat menjabat Menteri Investasi. Ia mencatat bahwa keluhan utama investor adalah perizinan yang berbelit karena harus mengurus dokumen ke banyak kementerian, yang menyebabkan proses eksplorasi dan perizinan menjadi lama. Meskipun topik utama adalah migas, laporan ini juga mencakup perkembangan paralel di sektor industri strategis. Menteri Perindustrian Sarmuji, dalam pertemuan terpisah di Jakarta pada Selasa (27/10), mendorong Toyota untuk melangkah lebih jauh dari kendaraan hybrid menuju elektrifikasi penuh.
Dalam diskusi dengan Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Nandi Julyanto, Sarmuji menekankan bahwa ekosistem baterai Indonesia telah maju sehingga perlu pengembangan full electrical. Saat ini, Toyota memiliki tiga model listrik di pasar domestik: bZ4X (produksi lokal), Hilux EV (impor Thailand), dan Urban Cruiser EV (impor India). Sarmuji juga meminta produksi double cabin dipindahkan ke Indonesia untuk mengurangi impor dari Thailand, sementara Nandi memastikan Toyota sedang menyiapkan model BEV berikutnya yang lebih sesuai dengan kondisi pasar dan kemungkinan harga yang lebih terjangkau.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Andalkan Empat Segmen Bisnis, Telkom Rebut Target Laba Bersih Rp14,4 T di Kuartal III 2026

Rupiah Melemah ke Rp18.140 per Dolar AS, Inflasi Melandai tapi Tekanan Biaya Manufaktur Mengintai

Kebijakan BEI: 81 Saham HSC Dicoret dari IHSG, Bobot 10 Emiten Besar Melonjak
