Saling Gempur Saudi-Houthi Memanas, Serpihan Rudal Jatuh 23 Km dari Masjidil Haram
Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Intensitas konflik bersenjata antara koalisi pimpinan Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman kembali memuncak setelah rentetan serangan proyektil balistik dan jelajah menyasar berbagai kota di wilayah Saudi pada akhir pekan lalu. Pertahanan Sipil Arab Saudi mengonfirmasi bahwa serpihan dari dua rudal balistik yang berhasil dicegat jatuh di Jeddah, Taif, Rabigh, serta Wadi Al-Mughammas, sebuah lokasi yang hanya berjarak sekitar 23 km dari Masjidil Haram di Mekkah.
Kronologi Pencegatan Proyektil dan Dampaknya
Gelombang serangan yang dimulai pada Sabtu (24/10) malam tersebut memaksa sistem pertahanan udara Saudi bekerja ekstra. Selain mencegat proyektil di dekat wilayah Mekkah, pasukan koalisi juga menggagalkan satu drone dan satu rudal balistik yang mengarah ke ibu kota Riyadh. Menjelang tengah malam pada Minggu (25/10), sebuah rudal jelajah yang menuju Khamis Mushait turut dihancurkan, sementara sirene peringatan terus berbunyi di seluruh wilayah Taif dan Jazan.
Akibat situasi keamanan yang memanas ini, operasional penerbangan internasional sempat ditangguhkan di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh. Otoritas bandara kemudian mengumumkan bahwa penerbangan internasional akan kembali beroperasi melalui Terminal 2 mulai Minggu (25/10), sedangkan Terminal 1 dialihkan khusus untuk rute domestik.
Bantahan Houthi dan Kecaman Organisasi Islam
Pihak Arab Saudi menuding kelompok Houthi secara sengaja menargetkan situs-situs suci Islam, termasuk wilayah Mekkah dan Madinah. Tuduhan ini memicu reaksi keras dari sejumlah organisasi internasional. Liga Dunia Muslim menyebut tindakan tersebut sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap kesucian agama yang melukai perasaan lebih dari satu setengah miliar umat Muslim di seluruh dunia. Sekretaris Jenderal Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dan Sekretaris Jenderal Dewan Kerja Sama Teluk, Jasem Mohamed Albudaiwi, turut mengecam serangan di provinsi Mekkah, Madinah, Taif, dan Jeddah sebagai provokasi berat.
- Serpihan dua rudal balistik yang dicegat jatuh di Jeddah, Taif, Rabigh, dan Wadi Al-Mughammas (23 km dari Masjidil Haram).
- Satu drone dan satu rudal balistik dicegat di atas Riyadh, serta satu rudal jelajah dihalau dari arah Khamis Mushait.
- Juru bicara Houthi mengklaim koalisi Saudi meluncurkan lebih dari 100 serangan ke berbagai wilayah Yaman, termasuk Sanaa.
- Houthi mengeluarkan peringatan agar maskapai dan penumpang menghindari Bandara Internasional King Khalid di Riyadh.
Namun, milisi Houthi membantah tuduhan bahwa mereka mengincar tempat-tempat suci umat Islam. Melalui berbagai unggahan di platform X dalam kurun waktu tiga hari terakhir, juru bicara militer Houthi, Yahya Al Saree, justru menyatakan bahwa koalisi Saudi telah menggempur berbagai wilayah di Yaman, termasuk ibu kota Sanaa, dengan lebih dari 100 serangan. Sebagai respons, Houthi mengklaim melancarkan serangan balasan ke bandara internasional, gudang senjata, hingga fasilitas minyak milik Saudi.
Al Saree juga memperbarui peringatan kepada perusahaan penerbangan internasional maupun regional, beserta karyawan dan penumpang, agar tidak menggunakan jalur penerbangan melalui Bandara Internasional King Khalid karena dianggap tidak aman. Ia menegaskan bahwa seluruh wilayah udara Saudi merupakan target militer, kecuali ruang udara di Makkah Al-Mukarramah dan Madinah Al-Munawwarah. Sejauh ini, belum ada pernyataan baru dari pihak Houthi yang secara spesifik merespons tuduhan penargetan Mekkah dan Madinah.
Eskalasi saling serang selama beberapa bulan terakhir ini menambah lapisan ketegangan baru di kawasan Timur Tengah, yang sebelumnya sudah dipicu oleh konflik Amerika Serikat dan Iran yang belum menemui titik penyelesaian. Yaman sendiri telah berada dalam kondisi perang sejak September 2014 ketika Houthi merebut Sanaa dan memaksa pemerintah Yaman berpindah ke wilayah selatan. Pertempuran terbaru ini dilaporkan kembali memanas menyusul serangan pasukan pemerintah terhadap Bandara Internasional Sanaa yang diklaim bertujuan mencegah kedatangan delegasi Houthi dari Teheran.


