Danantara Yakin Energi dan SDA Tetap Jadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Chief Economist Danantara, Reza Yamora Siregar, menegaskan sektor energi dan sumber daya alam (SDA) akan tetap menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan, sejalan dengan tren global. Pernyataan itu disampaikannya dalam forum Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Senin (26/10/2026).
Menurut Reza, prospek tersebut mencakup pula pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT). Karena itu, Danantara tengah memusatkan perhatian pada sektor ini, termasuk bidang kendaraan listrik (electric vehicles/EV) yang ia sebut tumbuh pesat dan menjadi salah satu fokus kerja utama lembaga tersebut.
Peluang Data Center dari Moratorium Malaysia dan Thailand
Reza juga menyoroti keterkaitan sektor energi dengan digitalisasi, terutama melonjaknya pembangunan pusat data (data center) di dunia yang beriringan dengan perkembangan platform dan e-commerce. Ia menilai pusat data sangat krusial sebagai bagian infrastruktur digital.
Lebih jauh, ia menyebut moratorium pembangunan pusat data yang berlaku di Malaysia dan Thailand akibat keterbatasan sumber daya seperti air dan daya listrik justru membuka peluang besar bagi Indonesia, termasuk bagi Danantara.
Struktur Penopang PDB Belum Banyak Berubah
Secara struktur, sektor-sektor penopang perekonomian nasional dalam beberapa tahun terakhir memang tidak mengalami pergeseran drastis. Berdasarkan data kuartal II-2026:
- Industri pengolahan: kontribusi terbesar 18,50% terhadap PDB, tumbuh 4,52%
- Pertanian: kontribusi 13,57%, tumbuh 3,8%
- Perdagangan: kontribusi 13,02%, tumbuh 6,39%
- Konstruksi: kontribusi 9,79%, tumbuh 6,68%
- Pertambangan: kontribusi 8,87%, justru kontraksi 1,64%
Adapun laju pertumbuhan tertinggi pada kuartal II-2026 dicatat sektor pengadaan listrik dan gas, yakni 10,81%, meski kontribusinya terhadap PDB hanya 0,99%. Disusul akomodasi dan makan minum yang tumbuh 10,60% dengan kontribusi 2,77%, serta infokom yang tumbuh 6,97% dengan kontribusi 4,30%.


