⚠️INFO GEMPA BUMI: Magnitudo 5.1 di 19 km WNW of Tomohon, Indonesia pada 2/11/2026, 15.13.14. Baca peringatan dan analisis selengkapnya.
Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

BI Turunkan GWM Bertahap, Rp90 Triliun Likuiditas Tambahan Mengalir ke Perbankan Mulai November

Ekonomi & PasarSiti AmaliaSiti AmaliaSumber: CNN Ekonomi
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

BI Turunkan GWM Bertahap, Rp90 Triliun Likuiditas Tambahan Mengalir ke Perbankan Mulai November
BAGIKAN:

Bank Indonesia (BI) akan melepas tambahan likuiditas sekitar Rp90 triliun ke sistem perbankan melalui penurunan rasio Giro Wajib Minimum (GWM) sebesar 1 persen. Langkah ini merupakan bagian dari penyesuaian bertahap GWM bank umum konvensional dari 9 persen menjadi 7 persen, yang dijadwalkan turun masing-masing 1 persen pada 1 November dan 1 Desember 2026.

Kepala Departemen Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI Firman Mochtar menjelaskan bahwa secara keseluruhan penurunan 2 persen tersebut diperkirakan menambah likuiditas sekitar Rp190 triliun. Namun, hanya 1 persen atau setara Rp90 triliun yang benar-benar berasal dari dana yang selama ini masih tersimpan di BI. Sisanya berkaitan dengan fasilitas Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) yang dananya sudah berada di dalam sistem perbankan.

Menurut keterangan Firman dalam taklimat media BI pada Jumat (23/10), kebijakan ini diambil karena pertumbuhan kredit perbankan tercatat lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK). Data BI menunjukkan hingga September 2026, pertumbuhan kredit mencapai 13,26 persen secara tahunan, sementara DPK hanya tumbuh 8,22 persen. Kondisi tersebut membuat bank sentral perlu mengatur ulang keseimbangan likuiditas agar sejalan dengan BI-Rate, target inflasi, dan pertumbuhan ekonomi.

Terkait alokasi dana Rp90 triliun, BI menegaskan tambahan likuiditas tidak otomatis diarahkan ke satu sektor tertentu. Perbankan memperoleh ruang lebih fleksibel untuk mengelola dana tersebut guna mendukung kegiatan ekonomi tanpa harus dikaitkan dengan kredit spesifik. BI juga memastikan perhitungan telah dilakukan agar pelepasan dana ini tidak memicu kelebihan uang beredar di masyarakat.

Sementara itu, Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI Yanti Sri Meyyanti menyatakan pelonggaran likuiditas tetap dibarengi pengawasan penyaluran kredit. Ia menyebutkan sektor pertanian, industri, dan hilirisasi telah hampir sepenuhnya memanfaatkan insentif KLM. Oleh karena itu, BI akan mengevaluasi dan membuka ruang bagi sektor lain yang dinilai lebih membutuhkan dukungan, terutama yang berkaitan dengan penciptaan lapangan kerja.

Yanti menambahkan bahwa KLM menggunakan pendekatan forward looking, di mana bank wajib menyampaikan komitmen penyaluran kredit terlebih dahulu sebelum realisasinya dievaluasi pada akhir periode. BI menilai persoalan utama saat ini bukan kekurangan likuiditas secara keseluruhan, melainkan distribusi yang belum merata antarbank.

Bersamaan dengan penurunan GWM, BI juga menaikkan suku bunga Deposit Facility sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen. Dengan BI-Rate yang dipertahankan pada 5,75 persen, posisi deposit facility kini berada 75 basis poin di bawah BI-Rate, sementara lending facility berada 75 basis poin di atasnya. Menurut Firman, kombinasi kebijakan ini bertujuan memperkuat transmisi moneter dari pasar uang ke perbankan dan perekonomian secara lebih harmonis.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸