Militer AS Dilarang Bertaruh di Pasar Prediksi Usai Skandal Info Rahasia Operasi Venezuela

Ekonomi & Pasar
Siti AmaliaSiti Amalia
Sumber: CNBC Indonesia
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Militer AS Dilarang Bertaruh di Pasar Prediksi Usai Skandal Info Rahasia Operasi Venezuela
BAGIKAN:

Menteri Perang Amerika Serikat Pete Hegseth mengeluarkan larangan tegas bagi seluruh personel militer dan pegawai sipil departemen pertahanan untuk menggunakan informasi rahasia atau data resmi yang belum dipublikasikan sebagai dasar bertaruh di pasar prediksi. Arahan dalam memo tertanggal Selasa tersebut secara spesifik menargetkan platform seperti Polymarket dan Kalshi.

Menurut keterangan Hegseth yang dikutip Russia Today pada Sabtu (24/10/2026), aktivitas taruhan berbasis informasi internal dapat membocorkan rencana militer kepada pihak musuh. Ia menegaskan bahwa setiap transaksi keuangan yang terkait hasil operasi militer akan menciptakan sinyal yang bisa diamati lawan, sekaligus mengancam objektivitas profesional di lapangan. Pelanggaran terhadap aturan ini berpotensi berujung pada tindakan disipliner maupun tuntutan pidana berdasarkan hukum militer dan federal.

Langkah pencegahan itu diambil menyusul penuntutan terhadap Sersan Utama Gannon Ken Van Dyke, seorang tentara Pasukan Khusus AS. Jaksa menduga Van Dyke memanfaatkan pengetahuan awalnya tentang operasi penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada Januari untuk memasang taruhan di Polymarket senilai lebih dari US$ 32.500 (Rp 585.000.000). Sebagian besar taruhan tersebut diduga dipasang hanya beberapa jam sebelum serangan ke Caracas berlangsung dan menghasilkan keuntungan lebih dari US$ 400.000 (Rp 7.200.000.000). Hingga saat ini, Van Dyke mengaku tidak bersalah atas tuduhan tersebut.

Pola pemanfaatan informasi orang dalam di pasar prediksi juga tercatat terjadi di luar lingkup militer. Sejumlah akun baru di Polymarket diketahui memasang taruhan dengan waktu yang mencurigakan tepat sebelum Presiden Donald Trump mengumumkan gencatan senjata AS-Iran pada April lalu, yang menghasilkan keuntungan hingga ratusan ribu dolar. Insiden ini mendorong Gedung Putih mengeluarkan peringatan serupa kepada stafnya agar tidak memperdagangkan informasi rahasia.

Dalam kasus terpisah, seorang mantan operator teleprompter Trump dijatuhi sanksi oleh regulator setelah terbukti menggunakan akses awal terhadap teks pidato presiden untuk bertaruh pada kata-kata yang akan diucapkan. Ia diperintahkan menyerahkan keuntungan lebih dari US$ 107.500 (Rp 1.935.000.000) serta membayar denda sebesar US$ 65.000 (Rp 1.170.000.000).

Rangkaian skandal ini memicu perdebatan mengenai status regulasi pasar prediksi. Beberapa negara bagian di AS menilai platform semacam itu menghindari hukum perjudian dan perlindungan konsumen setempat. Namun, pemerintahan Trump bersikeras bahwa pengawasan harus tetap berada di bawah otoritas keuangan federal. Di sisi lain, terdapat catatan bahwa keluarga presiden memiliki hubungan bisnis dengan industri ini, di mana Donald Trump Jr. menjabat sebagai penasihat strategis untuk Kalshi dan memegang investasi di Polymarket melalui perusahaan ventura 1789 Capital.

Meow! Tanya Nesi!
😸