Warga dan Dosen Palembang Keluh Dampak Asap Karhutla Hampir 3 Bulan
Fokus pada liputan mendalam dan isu-isu sosial yang berdampak pada masyarakat luas.

Dampak Asap Berkepanjangan di Palembang
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah menyelimuti Kota Palembang, Sumatera Selatan, selama hampir tiga bulan. Berdasar keterangan sumber, lamanya paparan asap tersebut secara signifikan mengganggu aktivitas harian serta kesehatan masyarakat.
Gangguan pada Sektor Pendidikan
Imam Warmasnyah, dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Raden Fatah Palembang, menyatakan perkuliahan terpaksa beralih ke sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) karena pekatnya kabut asap. Ia menilai metode daring tersebut tidak efektif dan menyebabkan berbagai kegiatan kampus tertunda. Imam Warmasnyah meminta pemerintah mencari solusi yang lebih efektif dan menghindari langkah-langkah yang menurutnya hanya mengulur waktu, karena ia khawatir dampak asap akan meluas ke sektor ekonomi dan politik.
Gejala Kesehatan dan Ketergantungan pada Penaburan Dry Ice
Rasya, warga yang rutin berolahraga pagi, melaporkan aktivitasnya terganggu oleh gejala fisik seperti mata perih, napas sesak, dan tenggorokan kering. Meskipun kualitas udara membaik sementara setelah penaburan dry ice, Rasya mengabarkan kondisi udara kembali memburuk dengan asap lebih pekat dibandingkan sebelumnya. Warga saat ini berharap pemerintah dapat menerapkan solusi jangka panjang, bukan hanya mengandalkan taburan dry ice yang efektifnya bertahan sekitar tiga hari.
BERITA TERKAIT (Berita Nasional)

Fenomena Misterius: Es Batu Setengah Kepala Manusia Timpa Rumah Warga Bantul, BMKG Belum Bisa Pastikan Penyebabnya

KPU Klaim Tugas Selesai, MA Resmi Batalkan Suket Ijazah SMA Gibran Rakabuming Raka

Lahan 3 Hektare di Hutan Alas Roban Batang Terbakar, BPBD Jateng Duga Aksi Pembalakan Liar
