Prospek Ekonomi Global 2027 Membaik, Pemerintah Siapkan Syarat Capai Pertumbuhan 6%
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo menyatakan Indonesia masih menghadapi tantangan ekonomi pada 2027 meskipun prospek global diperkirakan membaik. Risiko geopolitik, proteksionisme, dan volatilitas pasar keuangan disebut tetap membayangi. Berdasarkan data yang disampaikan Dradjad, pertumbuhan ekonomi dunia pada 2027 diproyeksikan mencapai 3,1%, perdagangan dunia tumbuh sekitar 3,3%, sementara inflasi global diperkirakan melandai ke angka 3,7%.
Di tengah proyeksi tersebut, Dradjad menyoroti perbaikan pada sektor manufaktur domestik. Indeks Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur tercatat berada di level 52,4, naik dari posisi sebelumnya yang berada di bawah 50. Angka di atas 50 mengindikasikan terjadinya ekspansi pada sektor yang menjadi penyumbang penting bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
Fundamental ekonomi Indonesia hingga kuartal ketiga 2026 menunjukkan sejumlah capaian. Menurut keterangan Dradjad saat memberikan sambutan utama di Jakarta, Kamis (22/10/2026), ekonomi nasional tumbuh 5,45% pada semester I-2026 dengan inflasi September 2026 sebesar 3,28%. Realisasi investasi sepanjang Januari hingga September 2026 mencapai Rp1.539,2 triliun atau tumbuh 7,3% secara tahunan. Indikator sosial juga mencatatkan tingkat pengangguran terbuka di angka 4,65% dan rasio Gini sebesar 0,368.
Sektor perbankan dinilai memiliki peran dalam menjaga stabilitas ini. Data Agustus 2026 menunjukkan penyaluran kredit perbankan tumbuh 13,65%, sementara dana pihak ketiga meningkat 10,94%. Rasio kecukupan modal (CAR) tercatat 24,10% dengan rasio kredit bermasalah (NPL) di level 2,11%. Kondisi tersebut dimanfaatkan pemerintah untuk menjalankan program penopang daya beli, termasuk penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) senilai Rp250,43 triliun dan realisasi bantuan sosial sebesar Rp115,8 triliun.
Pemerintah juga mengandalkan pengembangan industri hilir sebagai sumber pertumbuhan baru. Sebanyak 26 proyek hilirisasi dengan nilai investasi Rp225 triliun diproyeksikan mampu menciptakan sekitar 37.833 lapangan kerja. Langkah-langkah ini merupakan bagian dari strategi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi menuju target 6% pada 2027 dan 8% dalam jangka menengah.
Dradjad menjelaskan bahwa pencapaian target tersebut memerlukan prasyarat tertentu, seperti pertumbuhan investasi yang lebih cepat dibandingkan produk domestik bruto (PDB), peningkatan produktivitas, serta ekspor yang bertumpu pada produk bernilai tambah dengan dukungan logistik efisien. Untuk mempercepat investasi, pemerintah memperkuat kepastian berusaha melalui Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2025, penyederhanaan perizinan berbasis risiko, dan penguatan koordinasi lintas kementerian guna menyelesaikan hambatan investasi.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Andalkan Empat Segmen Bisnis, Telkom Rebut Target Laba Bersih Rp14,4 T di Kuartal III 2026

Rupiah Melemah ke Rp18.140 per Dolar AS, Inflasi Melandai tapi Tekanan Biaya Manufaktur Mengintai

Kebijakan BEI: 81 Saham HSC Dicoret dari IHSG, Bobot 10 Emiten Besar Melonjak
