Penjelasan Medis dan Tafsir Budaya soal Mimpi Mendengar Nama Sendiri Dipanggil

Selebriti
Nadia PutriNadia Putri
Sumber: KapanLagi
Nadia Putri
Nadia Putri
Editor Hiburan

Pengamat budaya pop dan tren media sosial yang tahu persis apa yang sedang viral.

Penjelasan Medis dan Tafsir Budaya soal Mimpi Mendengar Nama Sendiri Dipanggil
BAGIKAN:

Mendengar nama sendiri dipanggil saat tidur kerap memicu kekhawatiran karena sering dianggap sebagai pertanda gaib. Padahal, menurut penjelasan medis yang dilansir dari Medical News Today, suara panggilan yang terdengar tepat saat seseorang mulai tertidur dapat dikategorikan sebagai halusinasi hipnagogik. Kondisi ini terjadi pada masa peralihan antara sadar dan tidur, sehingga terasa sangat nyata.

Mengacu pada keterangan WebMD, halusinasi hipnagogik bukan gejala gangguan jiwa dan umumnya tidak perlu dikhawatirkan jika hanya muncul sesekali. Pembedaan antara mimpi sungguhan dan pengalaman setengah sadar ini penting agar seseorang tidak buru-buru menarik kesimpulan mistis. Namun, pemeriksaan dokter disarankan apabila suara tersebut terdengar saat benar-benar terjaga atau disertai rasa kantuk berlebih di siang hari.

Dari sudut pandang psikologi, mimpi berkaitan erat dengan identitas diri dan pikiran yang belum selesai diolah. Psikolog Carl Jung meyakini bahwa mimpi membawa pesan dari alam bawah sadar. Dalam konteks ini, nama adalah penanda paling pribadi, sehingga suara yang memanggil nama dalam tidur sering ditafsirkan sebagai upaya batin untuk menunjukkan masalah yang memerlukan perhatian, seperti kerinduan atau kecemasan.

Tafsir budaya juga memberikan perspektif berbeda. Merujuk buku Kitab Primbon Jawa Serbaguna (2021) karya R. Gunasasmita, mimpi dipanggil seseorang dimaknai sebagai tanda keberuntungan, terutama terkait usaha atau bisnis. Primbon tersebut bahkan menyebut mimpi dilambaikan tangan oleh pejabat sebagai pertanda kenaikan pangkat. Meski demikian, tafsir ini sebaiknya dipandang sebagai kekayaan budaya, bukan kepastian.

Sementara itu, tradisi Islam membagi mimpi ke dalam tiga jenis: mimpi baik dari Allah, mimpi buruk dari setan, dan mimpi yang berasal dari pikiran sendiri. Sebagaimana disampaikan NU Online Jateng, Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan dalam kitab Fathul Bari bahwa semua mimpi pada hakikatnya diciptakan oleh Allah. Mimpi yang benar biasanya tergambar jelas dan tetap diingat setelah bangun, sedangkan mimpi yang samar dan cepat terlupa tidak perlu terlalu dipikirkan.

Kitab Mukjam Tafsirul Ahlam menambahkan rincian bahwa makna panggilan bisa bergantung pada nama yang digunakan. Menurut kitab tersebut, dipanggil dengan nama yang bermakna baik ditafsirkan akan mendatangkan kemuliaan, sedangkan nama yang buruk dikaitkan dengan dugaan terbukanya aib atau penyakit. Abdul Ghani An-Nabulsi juga mengaitkan perubahan nama dalam mimpi dengan makna dari nama baru tersebut.

Pemahaman terhadap berbagai penjelasan ini membantu menyikapi pengalaman tidur secara lebih tenang. Alih-alih mencari arti gaib, mengenali detail seperti siapa yang memanggil dan bagaimana perasaan saat terbangun dapat menjadi bahan refleksi atas kondisi pikiran maupun tubuh yang sebenarnya sedang dialami.

Meow! Tanya Nesi!
😸