Karhutla Gunung Ciremai Meluas ke Puluhan Hektare, Pemkab Kuningan Koordinasi Water Bombing
Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Kebakaran hutan dan lahan di kawasan lereng Taman Nasional Gunung Ciremai wilayah Pasawahan, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, meluas dari perkiraan awal sekitar lima hektare menjadi puluhan hektare. Api yang pertama kali terpantau pada Rabu (21/10) malam itu bergerak dari area perbatasan hutan Desa Seda menuju Blok Yanggo, Desa Cibuntu, sejak pukul 04.00 WIB.
Medan yang terjal, berbatu, serta minimnya sumber air menjadi hambatan utama bagi petugas gabungan dalam menjangkau titik api. Humas Masyarakat Peduli Api (MPA) Silihwangi Majakuning, Asep, menyebutkan tidak adanya embung penampung air dan jauhnya akses mata air memaksa relawan menggunakan cara manual seperti ranting pohon serta membuat sekat bakar. Embusan angin kencang dan vegetasi yang mengering turut mempercepat perambatan api ke zona rimba.
Menghadapi kondisi tersebut, Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar menyatakan pemerintah kabupaten telah berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk mengupayakan dukungan helikopter melalui metode water bombing. Opsi jalur udara dipertimbangkan karena pemadaman lewat darat dinilai sangat sulit dan berbahaya saat api menjalar ke lereng terjal.
Penguatan personel dilakukan dengan melibatkan unsur TNI, Polri, BPBD, Perhutani, petugas pemadam kebakaran, MPA, serta tambahan tenaga dari Kabupaten Majalengka dan Cirebon. BPBD Kabupaten Cirebon sendiri telah menerjunkan 48 personel yang berasal dari BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran, dan Taruna Siaga Bencana (Tagana), lengkap dengan peralatan pompa alkon, penampungan air, toren, dan logistik, menurut keterangan Sekretaris Pelaksana BPBD Kabupaten Cirebon Syamsul Huda.
Dian menjelaskan tambahan personel ditempatkan di posko penanganan dengan sistem penjagaan bergiliran agar operasi pengendalian berlangsung berkesinambungan. Pemerintah daerah juga menyiapkan tim medis dari puskesmas terdekat untuk memantau kesehatan petugas dan relawan, sementara provinsi memberikan insentif sebagai bentuk stimulus bagi mereka yang bertugas siang dan malam selama dua hari terakhir.
Terkait penyebab kebakaran, Asep menyebutkan belum ada kepastian. Namun, muncul dugaan bahwa kebakaran disengaja karena api baru terlihat setelah kelompok tani hutan turun pada sore hari, dan lokasi kejadian berada di dekat area Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK). Hingga Kamis petang, Koordinator Urusan Data, Evaluasi, Pelaporan, dan Kehumasan TNGC Eska Nata Suryana menyatakan upaya pemadaman darat dan pembuatan sekat bakar masih terus berlangsung bersama relawan dan masyarakat sekitar.


