Alih Fungsi Lahan Gambut Picu Ancaman Kebakaran dan Banjir Berulang di Indonesia

Teknologi
Reza AdityaReza Aditya
Sumber: CNN Teknologi
Reza Aditya
Reza Aditya
Pakar Teknologi

Reviewer gadget independen dengan perspektif teknis yang mendalam.

Alih Fungsi Lahan Gambut Picu Ancaman Kebakaran dan Banjir Berulang di Indonesia
BAGIKAN:

Pengeringan dan alih fungsi lahan gambut secara masif di Indonesia telah menghilangkan kemampuan ekosistem tersebut dalam menyimpan air. Kondisi ini tidak hanya memperparah kebakaran hutan dan kabut asap, tetapi juga meningkatkan ancaman banjir bagi masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah gambut.

Guru Besar Ilmu Tanah Universitas Tanjungpura, Gusti Zakaria Anshari, menilai kondisi lahan gambut di Indonesia saat ini semakin kritis. Menurut ahli gambut tropis yang juga menjadi salah satu penulis Laporan Penilaian Keenam Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) tersebut, Indonesia berpotensi menghadapi bencana berulang jika kerusakan gambut terus berlanjut. Keterangan ini disampaikan Gusti dalam wawancara dengan CNNIndonesia.com.

Gusti menjelaskan bahwa gangguan terhadap ekosistem gambut mulai terjadi secara signifikan pada tahun 70-an ketika lahan dibuka untuk proyek transmigrasi. Hutan gambut yang awalnya berkayu ditebang karena dianggap sebagai tanah marginal atau kurang bermanfaat. Pembuatan kanal drainase secara masif kemudian dilakukan untuk mengeringkan air, yang justru memicu pertumbuhan tumbuhan seperti pakis yang mudah terbakar saat kering.

Kebakaran pada lahan gambut memiliki karakteristik berbeda karena api menjalar di dalam tanah sehingga sulit dipadamkan. Proses pembakaran ini melepaskan air yang berubah menjadi asap dan menyebabkan polusi udara. Gusti menyebutkan bahwa biaya pemadaman sangat besar, termasuk operasional helikopter yang menurut keterangannya dapat mencapai 100 juta hingga 200 juta per jam, ditambah pengerahan pasukan darat dan kerugian kesehatan jangka panjang akibat paparan kabut asap.

Berdasarkan data radio karbon yang digunakan dalam risetnya, umur gambut di hulu Sungai Kapuas, Kalimantan Barat, mencapai 40-an ribu tahun, sementara gambut di pinggir pantai berusia sekitar 7-8 ribu tahun. Meskipun kebakaran pernah terjadi secara alami ribuan tahun lalu, perubahan tersebut berlangsung lambat dan tidak merusak ekosistem. Sebaliknya, gangguan akibat pembangunan selama 40-50 tahun terakhir dinilai mengubah fungsi gambut secara drastis.

Kerusakan tersebut bersifat irreversible atau tidak dapat dikembalikan seperti semula. Gusti merujuk pada laporan UNEP yang menyatakan tingginya emisi karbon dari gambut yang mengering. Karena lapisan gambut hanya bertambah sekitar setengah milimeter atau kurang dalam satu tahun, pemulihan dalam rentang usia manusia dinilai tidak mungkin dilakukan. Upaya yang tersisa saat ini hanyalah mengurangi dampak dan menjaga kondisi yang ada.

Dampak praktis dari hilangnya fungsi simpan air gambut akan memunculkan dua skenario bencana ke depan. Musim kemarau yang lebih panjang berpotensi memperparah kebakaran. Sementara itu, jika curah hujan meningkat namun turun secara tidak merata dan deras dalam waktu singkat, air akan langsung mengalir dan menggenangi permukiman karena gambut tidak lagi mampu menyerapnya. Masyarakat yang bergantung pada ekosistem gambut juga terancam kehilangan mata pencarian akibat rentetan bencana tersebut.

Meow! Tanya Nesi!
😸