50 Istri Petani di Sorong Olah Cabai dan Jantung Pisang untuk Pasokan Swalayan
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Lima puluh istri petani di Kawasan Transmigrasi Klamono-Segun, Papua Barat Daya, mulai mengolah cabai, tomat, dan jantung pisang menjadi produk pangan bernilai tambah sejak September 2026. Langkah ini diambil setelah keluhan para petani mengenai rendahnya harga jual hasil kebun yang selama ini hanya dipasarkan dalam bentuk segar.
Pendampingan dilakukan oleh Tim Ekspedisi Patriot Universitas Brawijaya (TEP UB) melalui program Sekolah Foodpreneur Pangan Lokal. Kegiatan tersebut berlangsung di Kampung Wariyau, Distrik Klamono, dan Kampung Malasigit, Distrik Malabotom. Menurut anggota TEP UB Dina Aqilla, survei lapangan menunjukkan bahwa penjualan bahan mentah membatasi nilai ekonomi yang diterima keluarga petani, sementara potensi pengolahan pangan belum banyak digarap.
Para peserta yang terbagi dalam 10 kelompok dilatih menghasilkan lima produk utama, yakni sambal bawang, sambal kepiting, saus tomat, cabai tabur daun jeruk, dan abon jantung pisang. Pelatihan mencakup pemilihan bahan baku, kebersihan dan keamanan pangan, teknik pengolahan, pengemasan, hingga dasar-dasar pemasaran. Metode pendampingan menggabungkan pembelajaran materi dengan pelatihan memasak langsung dari rumah ke rumah.
Selain aspek produksi, tim juga mendampingi pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB) serta perizinan pangan industri rumah tangga bagi para peserta. Sasaran pemasaran produk olahan ini diarahkan ke swalayan lokal hingga pusat oleh-oleh di destinasi wisata Raja Ampat.
Warga Distrik Malabotom, Nuryati, menyatakan harapan agar keterampilan yang diperoleh dapat terus dipraktikkan dan berkembang menjadi sumber penghasilan yang menjangkau pasar lebih luas di wilayah Sorong maupun nasional.
Program ini sejalan dengan arahan Menteri Transmigrasi Iftitah Sulaiman Suryanagara agar pembangunan kawasan transmigrasi memberikan manfaat ekonomi berkelanjutan, bukan sekadar pemindahan penduduk. Pendekatan berbasis kebutuhan warga setempat juga ditekankan oleh Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dalam dialog bersama Tim Ekspedisi Patriot di Jayapura pada 17 September 2026.


