Senin, 2 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Prabowo Reshuffle: Maruli Jadi Wapang, Tandyo Gantikan KSAD, 6 Jenderal Dominasi Jabatan Baru

PolitikBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Prabowo Reshuffle: Maruli Jadi Wapang, Tandyo Gantikan KSAD, 6 Jenderal Dominasi Jabatan Baru
BAGIKAN:

Presiden Prabowo Subianto melantik sembilan pejabat negara di Istana Kepresidenan Jakarta pada Kamis (15/10) sore, sebuah langkah yang menegaskan dominasi militer di struktur pemerintahan dengan enam jenderal yang mengisi posisi kunci strategis. Dari sembilan nama tersebut, pergeseran jabatan ini bukan sekadar rotasi rutin, melainkan penataan ulang yang melibatkan tokoh-tokoh purnabakti dan aktif dari lintas matra, termasuk Badan Nasional Penanggulangan Bencana hingga kementerian pertahanan.

Geser posisi terjadi di lingkup tertinggi TNI. Jenderal Maruli Simanjuntak, yang sebelumnya memegang kendali sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD), kini dimutasinya menjadi Wakil Panglima TNI. Kursi KSAD yang ditinggalkan Maruli langsung diisi oleh Jenderal Tandyo Budi Revita, yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Panglima TNI. Pergantian ini menandai rotasi vertikal di tubuh komando tertinggi TNI AD.

Lini kementerian pertahanan juga mengalami perombakan signifikan dengan masuknya dua jenderal bintang tiga. Marsekal Yusuf Jauhari, yang sebelumnya memimpin Badan Logistik Pertahanan Kementerian Pertahanan, dilantik sebagai Wakil Menteri Pertahanan bidang logistik, industri pertahanan, dan teknologi. Di sisi lain, Jenderal TNI Richard Taruli Horja Tampubolon, mantan Kepala Staf Umum TNI, dipercaya mengemban amanah sebagai Wakil Menteri Pertahanan bidang strategi doktrin dan pembangunan kekuatan. Kedua pejabat ini kini berkolaborasi dalam memperkuat arsitektur pertahanan negara dari sisi logistik hingga doktrin.

Sektor kebencanaan dan lingkungan turut mendapat sentuhan tangan militer. Letjen Kristomei Sianturi, mantan Pangdam XXI/Radin Inten, resmi ditunjuk sebagai Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), menggantikan Letjen Suharyanto. Pergantiannya terjadi di tubuh Badan Pengelolaan Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN). Mayjen Sriyanto, yang sebelumnya menjabat sebagai Kapoksahli Pangdam XXI/Radin Inten, kini dilantik sebagai Wakil Kepala BPGMN. Posisi Kepala BPGMN sendiri diisi oleh Satyawan Pudyatmoko, seorang sipil, yang melenggang ke kursi tersebut dalam pelantikan yang sama.

Tiga pejabat sipil lainnya juga turut dilantik dalam seremoni tersebut. Rektor IPB Alim Setiawan resmi menjabat sebagai Wakil Menteri Pertanian, sementara advokat Maulana Bungaran ditunjuk sebagai Wakil Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas). Pelantikan ini merupakan bagian dari perombakan ketujuh kabinet Merah Putih Prabowo. Sebelumnya, reshuffle terakhir terjadi pada 1 Oktober 2026, menandakan dinamika yang tetap tinggi dalam dua tahun terakhir pemerintahan ini.

Analisis Redaksi

Masifnya penempatan jenderal di posisi wamen dan kepala badan non-militer menunjukkan pola yang konsisten: kepercayaan kepada prajurit aktif untuk mengawal isu strategis, mulai dari pertahanan, bencana, hingga pengelolaan sumber daya alam gambut. Pergantian KSAD dan Wapang TNI dalam satu paket pelantikan menandakan efisiensi komando, mengurangi rentang kendali dan mempercepat aliran informasi strategis. Namun, transisi Letjen Kristomei Sianturi ke BNPB merupakan langkah preventif untuk mengakselerasi respons kebencanaan dengan pendekatan logistik militer yang terstruktur.

Hal yang perlu diwaspadai adalah potensi tumpang tindih kompetensi di posisi Wamen Pertahanan. Menempatkan dua jenderal bintang tiga di dua bidang yang berbeda (logistik dan strategi) adalah langkah tepat secara teknis, namun menuntut koordinasi lintas-departemen yang ketat agar tidak terjadi silo antar-kemenko. Selain itu, penunjukan Rektor IPB Alim Setiawan sebagai Wamentan membawa angin segar akademis ke kementerian teknis, yang perlu diuji keberhasilannya dalam mentransfer kebijakan berbasis riset ke lapangan.

Secara prosedural, setelah pelantikan 15 Oktober ini, publik akan menyoroti kecepatan transisi di BNPB dan pertahanan. Jika pola reshuffle setiap kuartal terus berlanjut, tantangan terbesar bukan lagi pada kualitas figur, melainkan kontinuitas program. Stabilitas jangka pendek terjamin oleh figur-figur kenormalan, namun efektivitas jangka panjang bergantung pada bagaimana figur-figur militer ini mengintegrasikan kebijakan sipil tanpa sentralisasi berlebihan.

BERITA TERKAIT (Politik)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ