Senin, 2 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

KPK Amankan Rp5,47 M dan Aset Kripto dalam OTT Korupsi Dana BNPB

HukumSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

KPK Amankan Rp5,47 M dan Aset Kripto dalam OTT Korupsi Dana BNPB
BAGIKAN:

Tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyita total barang bukti senilai Rp5,47 miliar, mencakup uang tunai, emas fisik, tabungan emas, mata uang asing, hingga aset kripto dalam operasi tangkap tangan kasus dugaan suap di lingkungan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Pengamanan barang bukti ini dilakukan sebagai bagian dari rangkaian peristiwa OTT yang terjadi pada Selasa (13/10), yang kemudian dikonfirmasi oleh penyidik dalam jumpa pers di kantor KPK, Jakarta, Jumat (16/10). Penyitaan ini menandai pengungkapan skema korupsi yang melibatkan pengalokasian dana darurat bencana secara tidak wajar.

Direktur Penyidikan KPK, Achmad Taufik Husein, merinci komposisi nilai fantastis tersebut dalam konferensi pers. "Dalam rangkaian peristiwa tertangkap tangan ini, Tim KPK juga turut mengamankan barang bukti lebih kurang mencapai Rp5,47 miliar," tegas Taufik. Rincian nilai itu terdiri dari mata uang asing senilai USD 7.500 dan SGD 9.000, uang tunai rupiah sebesar Rp3,35 miliar, serta 56 keping emas seberat 133 gram yang nilainya mencapai Rp315,8 juta.

Di luar uang tunai dan emas fisik, penyidik juga mengamankan tabungan emas dengan berat 192 gram senilai Rp452 juta, serta aset kripto yang diperhitungkan senilai Rp1,10 miliar. Kombinasi aset dalam bentuk digital dan fisik ini menunjukkan upaya pelacakan aliran dana yang dilakukan para tersangka untuk menyamarkan jejak transaksi. Aset kripto menjadi sorotan tersendiri dalam kasus ini karena sering digunakan sebagai saluran penghindaran pajak atau pelacakan keuangan negara yang ketat.

Kasus ini terbagi menjadi dua klaster utama yang mengindikasikan adanya jaringan kepentingan di internal BNPB. Klaster pertama berkaitan dengan dugaan suap melalui konflik kepentingan yang melibatkan adik eks Kepala BNPB Letjen Suharyanto, yaitu Bima Setiawan atau BMS, yang juga bertindak sebagai tenaga ahli kakaknya. Pada klaster ini, teridentifikasi beberapa vendor atau penyedia barang dan jasa di lingkungan BNPB yang terafiliasi langsung dengan Bima Setiawan, menciptakan potensi benturan kepentingan dalam pengadaan.

Klaster kedua menyeret tersangka Richard Erlangga, tenaga ahli lainnya di eks Kepala BNPB, bersama Gery Prasetiawan, yang menjabat sebagai Kepala sekaligus Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pada Subdirektorat Pengelolaan Bantuan dan Dana Kedaruratan BNPB. Kedua pihak ini diduga menerima fee dari proyek pengadaan barang dan jasa yang menggunakan anggaran darurat penanganan bencana di sejumlah daerah. Secara total, KPK menetapkan lima tersangka dalam kasus ini, termasuk Gabriel Purwaka Sigit selaku Kasubdit dan PPK, serta dua pihak swasta, Syifa Nrika dan Gery Prasetiawan, yang berperan sebagai pemberi suap.

Analisis Redaksi

Penggunaan aset kripto senilai Rp1,10 miliar dalam jaringan suap dana bencana menandakan modernisasi dalam praktik korupsi di Indonesia. Koruptor kini tidak hanya bersembunyi di rekening bank konvensional, tetapi memanfaatkan volatilitas dan anonimitas mata uang digital untuk mengalihkan kerugian negara. Fakta bahwa adik eks kepala lembaga menjadi tenaga ahli sekaligus afiliator vendor menyoroti lemahnya pengendalian konflik kepentingan (conflict of interest) dalam struktur kepegawaian lembaga darurat. Ini adalah celah sistemik yang memungkinkan keluarga inti pejabat untuk mengintervensi kontrak publik.

Dengan penetapan pasal yang beragam, dari UU Tipikor hingga KUHP baru, KPK sedang membangun konstruksi hukum yang padat untuk mengunci peran para tersangka. Peran Gery Prasetiawan sebagai PPK di klaster kedua menunjukkan bahwa eksekutor teknis lapangan menerima bayaran, sementara elite intelektual di balik layar seperti Richard Erlangga dan Bima Setiawan mendapat bagian dari alokasi kebijakan. Langkah logis selanjutnya adalah penelusuran mendalam atas 56 keping emas dan tabungan emas tersebut, karena logam mulia sering menjadi cadangan likuiditas yang cepat dicairkan ketika terseret sengketa hukum.

Publik perlu mewaspadai bahwa dana darurat bencana seharusnya menjadi hak rakyat yang paling dasar ketika musibah terjadi. Perampokan di lini pengadaan tidak hanya merugikan negara, tetapi juga mengancam keselamatan jiwa korban bencana jika kualitas material tidak sesuai standar. Penahanan para tersangka selama 20 hari pertama menjadi momentum bagi KPK untuk membedah total arus kas BNPB, bukan hanya sekadar menangkap tangan. Kejelasan audit forensik terhadap proyek-proyek di daerah menjadi kunci untuk memastikan tidak ada dana bantuan yang menguap tanpa jejak.

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ