Senin, 2 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Survei Arawicaksa: Abdul Mu'ti Ungguli Amran, Bahlil Lahadalia Terjebak Di Dasar

PolitikBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Survei Arawicaksa: Abdul Mu'ti Ungguli Amran, Bahlil Lahadalia Terjebak Di Dasar
BAGIKAN:

Abdul Mu'ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, meraih peringkat pertama dalam survei kinerja kabinet yang digelar menjelang dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka. Hasil rilis Arawicaksa Institute tersebut menempatkan Mu'ti di puncak dengan skor 8,1 dari skala 0-10, mengungguli pesaing terdekatnya, Menteri Pertanian Amran Sulaiman, yang hanya meraih 8,0. Riset ini menyasar 1.200 responden di seluruh provinsi Indonesia, yang dilakukan melalui wawancara tatap muka antara 3 hingga 8 Oktober 2026.

Rudi Hartono, peneliti senior Arawicaksa Institute, menyebut gebrakan Mu'ti menjadi pendorong utama skor tersebut. Program revitalisasi sekolah yang menjangkau 16.617 sekolah pada 2025 dan ditargetkan meluas ke 71.744 sekolah pada 2026, termasuk wilayah 3T dan terdampak bencana, dinilai berhasil menjaga citra pemerintahan. Rudi menambahkan, ada peningkatan pada skor literasi membaca dari 359 menjadi 365, meski skor matematika masih tercatat melemah dari 366 menjadi 364.

Di sektor pangan, Amran Sulaiman dinilai berhasil mewujudkan swasembada beras dalam waktu singkat. Data menunjukkan produksi beras 2025 mencapai 34,69 juta ton, naik 13,29 persen secara tahunan, dengan surplus sebesar 3,56 juta ton. Penyerapan gabah oleh BULOG yang mencapai 3-4 juta ton per tahun dengan harga pembelian Rp6.500 per kg turut menjadi poin plus, meskipun Rudi mencatat adanya bayangan risiko dari musim kemarau panjang, ancaman El Nino, serta bencana kebakaran hutan dan lahan.

Di papan atas, Menteri Agama Nasaruddin Umar menyusul dengan skor 7,8, disusul Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi (7,5) dan Menko Infrastruktur Agus Harimurti Yudhoyono (7,4). Posisi terendah ditempati oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dengan skor rata-rata 1,2. Rudi menjelaskan bahwa migrasi konsumen ke BBM Pertalite akibat kenaikan harga Pertamax dan antrean panjang di SPBU menjadi faktor penurun reputasi Bahlil, meski harga BBM bersubsidi sempat ditahan di tengah gejolak harga minyak global.

Beberapa menteri lain juga terjebak di bawah rata-rata, antara lain Menteri Desa Yandri Susanto (1,3) dan Menteri HAM Natalius Pigai (1,5). Rudi menyoroti isu Koperasi Desa yang beriringan dengan berita miring, serta kasus Menteri ATR/BPN Nusron Wahid yang terseret skandal suap dan kasus korupsi kuota haji yang sedang dalam persidangan. Riset ini memiliki margin of error 2,89 persen dan menggunakan metode multistage random sampling.

Analisis Redaksi

Pola penilaian publik menunjukkan bahwa keberhasilan program tidak lagi cukup untuk mendapat apresiasi maksimal jika diiringi oleh friksi struktural atau isu legalitas yang berkepanjangan. Kasus Bahlil dan Nusron menegaskan bahwa reputasi birokrat sangat rapuh saat menghadapi masalah hukum atau ketegangan ekonomi riil yang dirasakan langsung di dompet rakyat. Sementara itu, sektor pendidikan dan pangan masih menjadi tameng politik yang efektif karena dampaknya bersifat masif dan mudah diukur secara kuantitatif.

Dengan sisa masa jabatan yang mendekati titik tengah, survei ini menjadi alarm bagi pihak istana. Ketergantungan pada dua figur yang berhasil naik daun, yaitu Mu'ti dan Amran, menunjukkan adanya ketergantungan pada keberhasilan struktural. Jika dinamika cuaca atau geopolitik mengganggu hasil pangan, atau jika evaluasi hasil pendidikan belum terlihat secara signifikan di angka PISA, posisi kedua menteri ini bisa menjadi taruhan utama bagi legitimasi kabinet di tahun-tahun berikutnya.

Langkah strategis ke depan menuntut responsifitas cepat. Masalah kemitraan di sektor perdesaan dan penyalahgunaan wewenang di ATR perlu diredam segera melalui klarifikasi hukum yang terbuka, sebelum kepercayaan publik menguap total. Bagi para pengamat, transisi dari 'keberhasilan program' menjadi 'keberesan moral' akan menjadi penentu apakah kabinet Merah Putih akan tetap stabil saat memasuki fase kedua pemerintahan nanti.

BERITA TERKAIT (Politik)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ