Suroso Isnandar Resmi Gantikan Darmawan Prasodjo sebagai Dirut PLN Lewat RUPSLB
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

PT PLN (Persero) resmi mengumumkan pergantian pemimpin tertinggi perusahaan lewat Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang berlangsung Rabu (14/10). Suroso Isnandar kini mengambil alih posisi direktur utama dari Darmawan Prasodjo dalam sebuah rapat daring yang dihadiri oleh seluruh direksi, komisaris, dan perwakilan pemerintah.
Komisioner Independen PLN, Andi Arief, membenarkan kabar rotasi tersebut melalui pesan singkat. “Iya, pergantian dirut,” tegas Andi. Rotasi ini dilakukan secara spesifik via Zoom pada pukul 18.30 WIB, dengan kehadiran Wakil Kepala Badan Pengembangan Manajemen SDM BUMN, Tedi Bharata, sebagai perwakilan dari instansi pengawas.
Kondisi unik terjadi dalam struktur kepemimpinan saat ini. Suroso tidak hanya mengemban jabatan barunya sebagai direksi utama, tetapi ia juga merangkap jabatan lamanya sebagai Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan. “Sementara Pak Suroso sebagai dirut masih merangkap jabatan lamanya sampai ada penggantinya,” jelas Andi. Ini menandakan bahwa Suroso kini memegang kendali penuh atas proyek strategis, energi terbarukan, sekaligus kepengurusan harian PLN secara keseluruhan secara parsial.
Kepergian Darmawan Prasodjo ditandai dengan apresiasi tinggi dari jajaran komisaris. Sejak 6 Desember 2021, Darmawan memimpin PLN dan disebut telah melakukan serangkaian transformasi signifikan dalam perusahaan. “Saya mengucapkan terima kasih atas pengabdian yang sangat berarti dari Darmawan Prasodjo, banyak melakukan transformasi,” ujar Andi. Ia menutup sambutannya dengan keyakinan bahwa kepemimpinan Suroso akan melanjutkan estafet perubahan tersebut.
Dalam konteks yang sama, Andi Arief menyuarakan optimismenya terhadap keberlanjutan kebijakan strategis. “Saya yakin Pak Suroso dirut baru akan melakukan transformasi lanjutan,” kata Andi. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa pemerintah dan dewan pengawas menginginkan konsistensi dalam program elektrifikasi dan modernisasi jaringan yang sudah dimulai sejak 2021. Suroso kini menghadapi tantangan ganda: mengintegrasikan program energi baru terbarukan yang ia kuasai secara teknis dengan manajemen korporasi level C-level.
Analisis Redaksi
Perpindahan kekuasaan ke tangan Suroso Isnandar yang juga memegang portofolio Proyek dan Energi Baru Terbarukan (EBT) menandakan perubahan prioritas strategis yang jelas. Bukan hanya manajerial, fokus PLN kini lebih condong ke eksekusi fisik program transisi energi. Keterlibatan Wakil Kepala BP BUMN dalam RUPSLB menunjukkan bahwa proses ini bukan sekadar internal korporat, melainkan pengawasan langsung dari pemerintah untuk memastikan sinergi dan keberlanjutan target negara.
Di sisi lain, model dual leadership atau rangkap jabatan sementara menimbulkan pertanyaan dalam tata kelola. Beban kerja yang ditanggung oleh satu figur untuk mengawasi dua divisi raksasa secara simultan bisa jadi faktor risiko terhadap kecepatan pengambilan keputusan. Namun, dari sudut pandang efisiensi birokrasi, langkah ini memberikan kontinuitas karena Suroso sudah memahami medan permainan. Publik dan investor perlu memantau bagaimana Suroso mendelegasikan tugas energi terbarukan setelah mengisi posisi penggantian tersebut, karena kinerja eksekusi proyek akan jadi tolok ukur utama keberhasilan transformasi lanjutan yang digariskan.

