Polda Metro Jaya Gerebek Kembali Kampung Ambon, Sita Sabu dan Airsoftgun
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Operasi pemberantasan narkotika kembali menyasar Kampung Ambon di Cengkareng, Jakarta Barat, yang telah lama dikenal sebagai kantong peredaran gelap. Direktur Reserse Narkoba Polda Metro Jaya, Kombes Bismo Teguh Prakoso, membenarkan adanya penggerebekan pada Selasa (13/10) tersebut. "Benar. Kampung Permata atau sarang narkoba Kampung Ambon Cengkareng Jakbar," tegas Bismo kepada wartawan, mengonfirmasi lokasi operasi yang juga dikenal dengan sebutan Kampung Permata.
Dalam penindakan kali ini, kepolisian mengerahkan 160 personel gabungan untuk mengamankan area yang rawan. Dari hasil penggerebekan, petugas berhasil menyita barang bukti berupa sabu seberat 20,66 gram dan cangklong sebanyak 16 buah. Penyitaan juga mencakup peralatan pendukung distribusi narkotika, menunjukkan adanya transaksi skala besar yang sedang berlangsung di lokasi tersebut.
Penyelidikan berlanjut dengan diamankan berbagai item lain yang mengindikasikan aktivitas penyeludupan dan penggunaan senjata. Polisi menyita dua pucuk airsoftgun, 12 senjata tajam, 13 timbangan digital, serta satu karung plastik klip kosong. Barang bukti juga meliputi 500 potong korek api, empat buku catatan hasil penjualan, 36 alat hisap sabu atau bong, dan delapan sendok sabu. Semua temuan ini kini disimpan di Mapolda Metro Jaya untuk pendalaman forensik.
Penggerebekan ini bukan kali pertama aparat mengobrak kampung tersebut. Pada Jumat (9/10), dua minggu sebelum operasi terakhir, tim gabungan telah menyisir Kampung Ambon dan Kampung Boncos di Daan Mogot, Jakarta Barat. Dari dua lokasi itu, 24 orang diamankan, terdiri dari 8 orang di Kampung Boncos dan 16 orang di Kampung Ambon. Saat ini, status hukum para tersangka masih dalam proses penyelidikan untuk menentukan apakah mereka berperan sebagai pengguna, pengedar, atau pemilik modal.
Temuan pada operasi sebelumnya juga mengungkap jaringan distribusi yang lebih luas dengan modus operandi yang beragam. Barang bukti meliputi sabu, ganja, alat hisap, hingga senjata tajam berupa panah, tombak, dan busur. Keberadaan obat-obatan kontrol seperti etomidate dalam daftar temuan sebelumnya menambah kompleksitas analisis forensik. Penggerebekan beruntun ini mengindikasikan bahwa aparat masih menelusuri aliran dana dan jaringan logistik di kawasan Cengkareng.
Analisis Redaksi
Intensitas penggerebekan dalam waktu singkat menandakan bahwa Kampung Ambon bukan lagi sekadar titik transito, melainkan pusat hub narkotika yang terorganisir. Sitaan buku catatan jualan menunjukkan adanya pembukuan yang rapi, sebuah ciri khas sindikat yang beroperasi dengan struktur bisnis, bukan peredaran jalanan sporadis. Adanya airsoftgun dan senjata tajam mengindikasikan kelompok pengedar memiliki kemampuan mempertahankan posisi mereka jika diduduki, sebuah eskalasi keamanan yang berbahaya.
Dampak bagi publik di sekitar wilayah Cengkareng harus menjadi perhatian utama. Keberadaan barang bukti timbangan digital dan karung plastik klip kosong mengimplikasikan tingginya volume perdagangan yang melampaui konsumsi lokal. Ini adalah sinyal peringatan akan pergeseran modus operandi pengedar yang mulai menggunakan senjata api imitasi untuk intimidasi, yang sering kali digunakan untuk melindungi jalur distribusi dari intervensi pihak lain atau aparat.
Langkah logis ke depan adalah pelacakan silsilah barang bukti untuk menguak aktor intelektual di balik 24 tersangka yang sudah diamankan. Penelusuran harus menyasar aliran dana dari 4 buku catatan jualan tersebut. Tanpa memutus mata rantai pendanaan dan pengendalian, penggerebekan fisik semata hanya akan menjadi pemicu penggeseran lokasi, bukan penghapusan jaringan narkotika secara permanen.
BERITA TERKAIT (Kriminal)

Kecelakaan Truk Molen di Bekasi Tewaskan 6 Orang, Diduga Rem Blong

Dua Eks Napiter Terlibat Pembakaran Warung Mi Babi di Sukoharjo, Satu Masih Buron

Polisi Ungkap Motif Cemburu di Balik Pembunuhan Sadis Ibu-Anak di Madiun
