Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Asap Karhutla Lumpuhkan Penerbangan di Papua: Delapan Rute Terhenti, Penumpang Wajib Cek Visibilitas

Berita DaerahSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Asap Karhutla Lumpuhkan Penerbangan di Papua: Delapan Rute Terhenti, Penumpang Wajib Cek Visibilitas
BAGIKAN:

Kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah mengacaukan jadwal transportasi udara di wilayah Papua, memaksa enam maskapai menangguhkan penerbangan utama dari Bandara Internasional Sentani, Jayapura, menuju Timika, Wamena, dan Sorong sejak Senin (12/10). Humas Bandar Udara Internasional Sentani, Syahrial, mengonfirmasi bahwa penundaan ini terjadi karena jarak pandang di kota tujuan tidak memenuhi standar keselamatan operasional.

<"""Detail Peristiwa"""/>

Berdasarkan data yang diterima, daftar maskapai yang terdampak mencakup Lion Air, Garuda Indonesia, Wings Air, Trigana Air, dan Sriwijaya Air. Spesifiknya, rute Jayapura-Timika (DJJ-TIM) untuk Lion Air JT-985 dan Garuda GA-653 harus dibatalkan, demikian pula rute Jayapura-Wamena (DJJ-WMX) untuk Wings Air IW1635 dan Sriwijaya Air SJ876. Rute Jayapura-Sorong (DJJ-SOQ) untuk Lion Air JT799 dan Jayapura-Timika untuk Sriwijaya Air SJ789 juga mengalami gangguan serupa. Para penumpang sempat terdampar di terminal, menunggu perkembangan cuaca yang fluktuatif.

Sementara itu, Deputi Area Manager Trigana Papua, Irwan Rochendi, memberikan nuansa berbeda pada operasional setempat. Ia menyatakan bahwa penerbangan ke Wamena akhirnya berjalan normal sekitar pukul 12.00 WIT untuk kargo dan penumpang, setelah penundaan singkat. Namun, situasi jauh lebih kritis di wilayah lain; penerbangan ke Dekai, Tanah Merah (Boven Digoel), Merauke, Mappi, dan Ewer (Asmat) di Papua Selatan dan Pegunungan tengah tertahan. "Untuk ke Tanah Merah, pelayanan penerbangan sudah dihentikan sejak Jumat (9/10), akibat jarak pandang yang hanya sekitar 300 meter," tegas Irwan, menekankan batasan fisik yang tidak dapat dinegosiasikan.

Di ujung barat Papua, Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kelas II Rendani Manokwari menghadapi dampak silang dari asap yang berasal dari Kabupaten Fakfak, Teluk Bintuni, dan Merauke. Kepala UPBU Manokwari, Herman Sujito, mencatat bahwa sejak akhir September hingga Oktober, peningkatan delay dan pembatalan masif terjadi. Pada Sabtu (10/10), seluruh penerbangan dari Manokwari dibatalkan karena visibilitas buruk, memaksa dua maskapai yang dijadwalkan mendarat pagi baru tiba siang hari, dan satu lagi mendarat pada Senin dini hari pukul 22.30 WIT kemarin. "Hari ini hanya penerbangan dari dan ke Sorong saja yang terganggu, karena kabut asap menyelimuti wilayah Sorong," ujar Herman, menunjukkan bahwa kondisi cuaca bergerak dinamis dari satu provinsi ke provinsi lain.

Kepada penumpang dan masyarakat, maskapai menjamin pengembalian biaya tiket secara penuh tanpa potongan, serta memfasilitasi penjadwalan ulang rute. Herman menekankan bahwa masyarakat harus memahami kondisi ini sebagai di luar kendali manusia, dan rutin mengecek informasi cuaca melalui kanal resmi BMKG sebelum memutuskan perjalanan. Penurunan visibilitas menjadi faktor penentu utama, di mana keselamatan pilot harus selalu diutamakan di atas segala hal.

Analisis Redaksi

Gangguan ini bukan sekadar masalah ketidaknyamanan, melainkan indikasi bahwa karhutla di kawasan Papua Selatan dan Barat tengah memasuki fase yang mengganggu konektivitas vital. Ketahanan logistik di Papua, yang sangat bergantung pada jalur udara karena minimnya infrastruktur darat, kini terancam. Penundaan kargo ke Wamena dan Merauke, misalnya, berpotensi memperlambat distribusi bahan pokok dan obat-obatan ke daerah terpencil yang sedang rentan. Ini menyoralkan kelemahan struktural daerah yang sangat bergantung pada cuaca untuk mobilitas harian.

Dari sisi kebijakan publik, respons maskapai yang menjamin refund penuh menunjukkan profesionalisme, namun beban biaya operasional tetap menjadi kerugian besar bagi industri penerbangan yang sudah tergerus biaya tinggi. Pemerintah daerah dan Kementerian Perhubungan perlu segera mengkordinasikan pemadaman api dengan data visibilitas dari BMKG. Tanpa intervensi pemadaman yang efektif di daerah asal asap seperti Fakfak dan Teluk Bintuni, pola delay yang berulang setiap bulan Oktober ini akan menjadi siklus tahunan yang menguras kepercayaan masyarakat terhadap transportasi udara.

BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Meow! Tanya Nesi!
😸