10 Lurah Finalis Benyamin S Award Asah Kemampuan Public Speaking Menjelang Grand Final

Sepuluh lurah finalis Benyamin S Award (BSA) dari berbagai wilayah DKI Jakarta mengasah kemampuan komunikasi publik untuk menghadapi tahap presentasi akhir. Pelatihan intensif sehari ini digelar di Grha Ali Sadikin, Balai Kota, Jakarta Pusat, pada Selasa (13/10), sebagai bekal penting sebelum mereka unjuk gigi di hadapan dewan juri pada 15 Oktober mendatang. Fokus utama pelatihan bukan sekadar retorika, melainkan bagaimana memaparkan program kelurahan secara efektif agar dampaknya berkelanjutan dan mudah dipahami masyarakat.
Kegiatan bertajuk "One Day Public Speaking and Showmanship Workshop" ini melibatkan 10 lurah beserta tim pendamping mereka. Representasi kelurahan cukup luas, mencakup wilayah dari Pulau Panggang hingga Kebon Sirih. Daftar peserta meliputi Kelurahan Kelapa Gading Timur, Malaka Sari, Utan Kayu Selatan, Srengseng, Sukabumi Utara, Taman Sari, Kebon Baru, dan Cilandak Barat. Kehadiran mereka menandakan keseriusan dalam mempersiapkan diri untuk memperebutkan pengakuan sebagai garda terdepan mewujudkan Jakarta yang bersih, nyaman, indah, dan sejahtera.
Pelatihan ini dilaksanakan bekerja sama dengan ParagonCorp, dengan kurikulum yang terbagi ke dalam tiga sesi mendalam. Sesi pertama berfokus pada membangun presence atau kewibawaan dan mindset atau pola pikir. Materi kemudian beralih ke teknis penyusunan struktur pesan, yang mencakup pembuatan outline dan penajaman poin-poin pemaparan yang kuat. Sesi terakhir menguji kemampuan manajemen panggung dan teknik bercerita melalui praktik nyata, di mana para lurah diminta berkolaborasi menggunakan medium lukisan hingga balok mainan untuk mengilustrasikan poin komunikasi.
Omar Danishwara, pelatih komunikasi yang memimpin sesi ini, menegaskan bahwa keterampilan berkomunikasi tidak bisa dipisahkan dari kompetensi kepemimpinan lainnya. Menurut dia, seorang pemimpin pada akhirnya harus mampu melihat banyak persoalan melalui prisma keterampilan yang berbeda, termasuk public speaking dan komunikasi efektif berbasis pemecahan masalah. Target utamanya adalah agar lurah mampu mengomunikasikan program mereka sehingga dapat diwujudkan dengan baik, dimanifestasikan bersama masyarakat, dan menghasilkan dampak yang sustainable.
Lurah Kebon Sirih, Henny Mahrojah, mengakui manfaat praktis dari materi yang ia dapatkan. Ia menyadari pentingnya unsur bercerita untuk menarik perhatian audiens, dalam hal ini para penilai BSA. "Jadi, kita harus bercerita. Jadi, membuat audiens atau dalam hal ini itu penilai itu tertarik dengan cerita kita, maka pelajaran atau ilmu ini akan saya terapkan ketika nanti paparan di tanggal 15 Oktober," kata Henny. Senada dengan itu, Lurah Taman Sari, Abdul Malik Raharusun, merasa telah mendapatkan banyak pengetahuan, terutama terkait public speaking yang akan menjadi modal utama mereka dalam tahap penilaian akhir.
Benyamin S Award sendiri merupakan program strategis yang diinisiasi oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Biro Kerja Sama Daerah, Sekretariat Daerah (Setda). Ajang ini bukan sekadar lomba, tetapi bentuk apresiasi langsung bagi kelurahan yang berkomitmen tinggi terhadap tata kota dan pelayanan publik. Setelah tahap presentasi final pada 15 Oktober, para pemenang akan diumumkan dalam acara puncak yang dijadwalkan berlangsung pada 30 Oktober 2026. Proses seleksi yang ketat ini memastikan bahwa hanya kelurahan dengan inovasi dan komitmen nyata yang akan membawa nama baik DKI Jakarta di kancah kompetisi tingkat nasional maupun internasional.
Analisis Redaksi
Langkah Pemprov DKI Jakarta membekali para finalis dengan keterampilan public speaking di tahap akhir kompetisi menunjukkan pergeseran paradigma dalam penilaian kelurahan. Bukan lagi sekadar melihat output fisik atau dokumen administratif, BSA kini menekankan pada kapasitas birokrat tingkat paling bawah untuk menjual ide dan menggerakkan partisipasi masyarakat. Keterampilan showmanship dan narasi bukan kemewahan, melainkan alat vital bagi lurah untuk mendapatkan dukungan sosial atas program yang mereka jalankan. Tanpa kemampuan komunikasi yang efektif, sebaik apa pun desain program, resonansinya di level akar rumput bisa gagal.
Perlu diwaspadai bahwa tekanan waktu antara pelatihan (13 Oktober) dan final (15 Oktober) sangat tipis. Dua hari jeda untuk menginternalisasi materi kewibawaan, struktur pesan, dan teknik bercerita mungkin tidak cukup untuk mengubah fundamental gaya komunikasi puluhan pemimpin kelurahan. Namun, eksposur intensif seperti ini setidaknya mengubah kerangka berpikir mereka dari "pelapor" menjadi "narator". Tantangan terbesar bagi para finalis adalah menerjemahkan teknik kelas ke dalam presentasi otentik tanpa terlihat kaku atau mekanis.
Menghadapi acara puncak pada 30 Oktober 2026, BSA memiliki waktu panjang untuk mengkurasi program yang benar-benar berdampak. Dengan memfokuskan perhatian pada aspek komunikasi di tahap final, panitia menggeser bobot penilaian pada efektivitas advokasi. Ini sinyal positif bahwa Pemprov DKI ingin menciptakan ekosistem kelurahan yang tidak hanya rapi dan bersih, tetapi juga tanggap dan mampu mengkomunikasikan kebutuhan warganya secara jelas. Keberhasilan para finalis nanti akan menjadi penentu apakah model "kelurahan komunikatif" ini akan direplikasi secara lebih luas di masa depan.
BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Wagub Bali Pantau Langsung Pencarian 2 Wisatawan Hilang di Glamping Pelaga Pascan Longsor

TNI AL Uji Kelayakan Operasi Helikopter di KRI Siriwjaya-100, Simulasikan Penanggulangan Bencana

Kadin Proyeksi Peluang Ekspansi Pajak Digital Nasional Mulai 9 November 2026
