Senin, 2 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

IHSG Ditutup Naik 1,04 Persen, Analis Soroti Sentimen Inflasi AS dan Sektor Energi

Ekonomi & PasarHendra GunawanHendra GunawanSumber: CNN Ekonomi
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

IHSG Ditutup Naik 1,04 Persen, Analis Soroti Sentimen Inflasi AS dan Sektor Energi
BAGIKAN:

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Jumat (9/10) dengan penguatan tipis namun signifikan sebesar 62,47 poin atau naik 1,04 persen ke level 6.093. Lonjakan ini didorong oleh aktivitas transaksi yang mencapai Rp9,95 triliun dari total volume 38,38 miliar saham. Meskipun demikian, performa mingguan indeks hanya mencatatkan kenaikan kumulatif 0,94 persen setelah melewati tiga hari positif dan dua hari pelemahan.

Data resmi Bursa Efek Indonesia menunjukkan dinamika pasar yang beragam selama periode 5 hingga 9 Oktober 2026. Kapitalisasi pasar bursa meningkat 0,68 persen menjadi Rp10.701 triliun dari sebelumnya Rp10.627 triliun. Namun, terdapat divergensi antara volume dan nilai; rata-rata volume transaksi harian justru turun 7,62 persen menjadi 46,53 miliar lembar, sementara rata-rata nilai transaksi harian melonjak drastis 28,52 persen menjadi Rp16,23 triliun. Frekuensi transaksi harian mengalami penurunan minor 0,27 persen menjadi 1,67 juta kali.

Sekretaris Perusahaan BEI, Aulia Noviana Utami Putri, mengungkapkan bahwa investor asing mencatatkan beli bersih senilai Rp30,40 miliar pada hari tersebut. Akan tetapi, akumulasi sepanjang tahun 2026 masih menunjukkan tekanan jual bersih asing yang besar, yakni mencapai Rp84,99 triliun. Angka ini menegaskan dominasi arus keluar modal asing dalam jangka panjang meskipun ada sedikit perlawanan di sesi penutupan pekan lalu.

Analis Teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, memproyeksikan IHSG masih rawan terkoreksi pada pekan depan dengan rentang support di level 5.973 dan resistance di 6.227. Pasar kini menantikan rilis data inflasi Amerika Serikat yang bakal menentukan arah kebijakan suku bunga The Fed. Selain itu, volatilitas rupiah terhadap dolar AS serta pergerakan harga komoditas minyak mentah akibat tensi geopolitik Iran juga menjadi faktor kunci yang perlu dicermati oleh pelaku pasar lokal.

Berdasarkan analisis teknikal tersebut, Herditya merekomendasikan sejumlah saham sektor energi dan tambang untuk dikoleksi. PT Barito Pacific Tbk (BRPT) diproyeksi menyentuh level 1.630 setelah ditutup menguat 1,08 persen ke posisi 1.405. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) juga masuk daftar pantauan dengan target 208 dari penutupan 180, diikuti oleh PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) yang ditargetkan mencapai 3.100 dari level saat ini 2.940.

Founder Republik Investor, Hendra Wardana, memberikan pandangan berbeda mengenai kualitas reli pasar saat ini. Ia menilai penguatan IHSG belum cukup membuktikan pemulihan kepercayaan investor secara fundamental. Tantangan utama menurutnya bukan sekadar valuasi murah, melainkan stabilitas makroekonomi, daya beli masyarakat, dan konsistensi kebijakan pemerintah. Untuk Senin (12/10), Hendra melihat IHSG akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan menguat terbatas jika mampu bertahan di atas level psikologis 6.000.

Hendra menyarankan perhatian khusus pada emiten berbasis sumber daya alam lainnya. PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) direkomendasikan dengan target 2.700 dari penutupan 2.580. PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) diproyeksi naik ke 12.800 dari 11.800, sedangkan PT Antam (Persero) Tbk (ANTM) ditargetkan menyentuh 3.400 dari level 3.180. Catatan redaksi menekankan bahwa informasi ini bukan rekomendasi mutlak, keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca.

Analisis Redaksi

Divergensi antara penurunan volume transaksi dan lonjakan nilai transaksi harian mengindikasikan adanya perubahan profil pelaku pasar. Kenaikan nilai transaksi yang tidak disertai peningkatan frekuensi maupun volume sering kali menjadi sinyal masuknya institusi besar atau smart money yang melakukan akumulasi diam-diam, kontras dengan ritel yang cenderung aktif berfrekuensi tinggi namun bervolume kecil. Hal ini menjelaskan mengapa kapitalisasi pasar naik meski partisipasi umum tampak menurun.

Ketergantungan pasar pada sentimen eksternal seperti data inflasi AS dan geopolitik Timur Tengah menempatkan IHSG dalam posisi rentan terhadap guncangan global. Rekomendasi saham yang berfokus pada sektor energi dan logam mulia mencerminkan strategi defensif investor terhadap ketidakpastian moneter. Jika rupiah kembali melemah karena hawkish-nya The Fed, emiten eksportir komoditas seperti BUMI, ADRO, dan ANTM berpotensi mendapatkan keuntungan kurs, namun risiko regulasi ekspor tetap membayangi margin laba mereka.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ