Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Efnie Indrianie Ungkap Cara Tepat Mendampingi Penderita Gangguan Mental

KesehatanBudi SantosoBudi SantosoSumber: Antara News
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Efnie Indrianie Ungkap Cara Tepat Mendampingi Penderita Gangguan Mental
BAGIKAN:

Psikolog anak, remaja, dan keluarga Efnie Indrianie, S.Psi, M.Psi, Psikolog menegaskan pentingnya pendekatan yang tepat saat mendampingi individu dengan masalah kesehatan mental. Ia menyampaikan bahwa dukungan emosional harus disertai pemahaman mendalam mengenai kondisi psikologis seseorang. Tanpa pengetahuan tersebut, niat baik justru bisa menjadi beban tambahan bagi penderita.

Efnie menjelaskan bahwa langkah awal yang krusial adalah mendengarkan tanpa menghakimi. Banyak orang terjebak dalam memberikan solusi instan atau nasihat moral yang tidak relevan dengan kondisi klinis. Pendekatan validasi perasaan jauh lebih efektif untuk membangun kepercayaan antara pendamping dan penderita.

Konteks penanganan gangguan jiwa di Indonesia masih menghadapi tantangan stigma sosial yang berat. Masyarakat sering kali memandang rendah mereka yang memiliki riwayat psikiatris. Hal ini membuat banyak penderita enggan mencari bantuan profesional hingga kondisinya memburuk secara signifikan.

Layanan psikologi di fasilitas kesehatan primer seperti Puskesmas kini semakin diperkuat kapasitasnya. Namun, aksesibilitas tetap menjadi isu utama di berbagai daerah terpencil. Integrasi layanan kesehatan mental ke dalam sistem kesehatan umum dinilai sebagai strategi jangka panjang yang esensial.

Dampak dari ketidaktahuan masyarakat sangat nyata pada kualitas hidup penderita. Isolasi sosial memperparah gejala depresi dan kecemasan. Oleh karena itu, edukasi publik tentang cara berkomunikasi yang suportif menjadi bagian tak terpisahkan dari upaya pencegahan bunuh diri dan kekerasan akibat tekanan mental.

Analisis Redaksi

Pernyataan Efnie Indrianie menyoroti celah besar dalam literasi kesehatan mental masyarakat kita. Fakta bahwa ahli menekankan aspek 'mendengarkan' menunjukkan betapa minimnya empati struktural selama ini. Kita terlalu sibuk menawarkan obat mujarab, padahal kebutuhan dasar manusia adalah rasa didengar dan dimengerti tanpa syarat. Ini bukan sekadar masalah teknis terapi, melainkan krisis kemanusiaan dalam interaksi sehari-hari.

Langkah selanjutnya menuntut kolaborasi lintas sektor yang lebih agresif. Media massa, institusi pendidikan, dan tokoh agama harus bersinergi meruntuhkan tembok stigma. Jika hanya mengandalkan tenaga medis, beban akan selalu jatuh pada pundak dokter dan psikolog yang jumlahnya terbatas. Perubahan perilaku kolektif dimulai dari rumah tangga dan lingkungan kerja terdekat.

BERITA TERKAIT (Kesehatan)

Meow! Tanya Nesi!
😸