Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Telematika AI Bukan Sekadar GPS, Pantau Perilaku Pengemudi hingga Hemat Biaya

TeknologiKelvin WijayaKelvin WijayaSumber: CNN Teknologi
Kelvin Wijaya
Kelvin Wijaya
Software Engineer

Membahas teknologi dari kacamata pengembang dan inovasi perangkat lunak.

Telematika AI Bukan Sekadar GPS, Pantau Perilaku Pengemudi hingga Hemat Biaya
BAGIKAN:

Teknologi telematika yang kini terintegrasi dengan kecerdasan buatan (AI) telah berevolusi jauh melampaui fungsi dasar pelacakan lokasi. Di tengah tuntutan efisiensi operasional dan keselamatan tinggi, sistem ini menjadi instrumen vital bagi perusahaan armada untuk memantau kondisi kendaraan, perilaku pengemudi, serta situasi jalan secara menyeluruh. Perubahan paradigma ini menegaskan bahwa data digital bukan lagi sekadar informasi posisi, melainkan alat prediktif untuk mencegah insiden sebelum terjadi.

Alvin Santoso, SEA Business Development Manager Geotab, menjelaskan bahwa pendekatan modern memanfaatkan video telematics untuk memberikan konteks visual yang lebih kaya dibandingkan GPS konvensional. "Ini memanfaatkan tidak hanya GPS, jadi this is something beyond GPS. Kita memanfaatkan video telematics juga supaya memberikan konteks lebih lengkap lagi," ujar Alvin dalam sesi Media Roundtable di Jakarta, Kamis (8/10). Sistem tersebut mampu mendeteksi perilaku berisiko seperti tailgating atau mengemudi terlalu dekat dengan kendaraan di depan. Dengan menghitung kecepatan dan jarak antar-kendaraan, AI mengirimkan peringatan korektif langsung kepada pengemudi agar insiden dapat dicegah seketika.

Dampak nyata dari pemanfaatan teknologi ini terlihat pada keputusan strategis PT Aerotrans Services Indonesia. Director of PT Aerotrans Services Indonesia, Kadek Bayu Temaja, mengungkapkan bahwa data perilaku berkendara memungkinkan perusahaannya menyesuaikan batas kecepatan operasional. Setelah menemukan tren peningkatan pengereman mendadak, manajemen memutuskan menurunkan batas kecepatan dari 115 kilometer per jam menjadi 110 kilometer per jam. "Akhirnya kita decide untuk menurunkan operate speed-nya jadi 110 kilometer per jam. Itu berdasarkan data yang kita miliki," kata Bayu. Selain aspek keselamatan, sistem telematika juga menyediakan peringatan dini mengenai potensi kerusakan komponen, sehingga perbaikan dapat dijadwalkan tanpa mengganggu ritme operasional harian.

Efisiensi serupa diterapkan oleh Head of Business Unit TRAVL, Alkautsar Salim, yang menggunakan pemantauan teknologi untuk meningkatkan kenyamanan penumpang. Salah satu implementasinya adalah penerapan batas maksimal 90 kilometer per jam saat melewati Jalan Layang Mohammed Bin Zayed (MBZ), mengingat kondisi jalan yang bergelombang memerlukan kewaspadaan ekstra. Data real-time ini membantu tim operasional mengambil keputusan cepat saat terjadi gangguan perjalanan, termasuk menentukan kendaraan pengganti terdekat atau mengarahkan pengemudi melalui jalur alternatif untuk menghindari kemacetan. Evaluasi kinerja pengemudi pun dilakukan berbasis data objektif, mendukung program pelatihan berkala setiap enam bulan.

Pengembangan teknologi ini juga merambah sektor kendaraan listrik. Alvin menambahkan bahwa telematika berperan penting dalam memantau konsumsi energi, tingkat pengisian daya, kesehatan baterai, hingga riwayat pengisian. Informasi granular ini memungkinkan perusahaan melakukan perbandingan efisien antara kendaraan konvensional dan listrik sebelum mengambil keputusan investasi besar terkait pengembangan armada masa depan. Dengan demikian, integrasi AI dalam telematika menawarkan solusi holistik: mengurangi risiko kecelakaan, menekan biaya perawatan tak terduga, dan optimalkan aset transportasi.

Analisis Redaksi

Migrasi dari pelacakan pasif ke analitik prediktif menandai babak baru dalam industri logistik dan transportasi Indonesia. Fakta bahwa penurunan kecepatan operasional Aerotrans didorong oleh data pengereman mendadak menunjukkan pergeseran budaya kerja dari intuisi manajerial menuju pengambilan keputusan berbasis bukti. Bagi publik, hal ini berarti potensi penurunan angka kecelakaan lalu lintas akibat faktor manusia, karena intervensi teknologi bersifat preventif dan real-time. Namun, tantangan privasi dan keamanan data tetap harus diwaspadai seiring meningkatnya volume rekaman video dan metadata pengemudi yang dikumpulkan.

Langkah selanjutnya yang logis adalah standarisasi protokol penggunaan data telematika di seluruh operator transportasi nasional. Tanpa regulasi yang jelas mengenai bagaimana data perilaku pengemudi digunakan—apakah murni untuk pelatihan internal atau bisa berdampak pada sanksi administratif—potensi penyalahgunaan data tetap terbuka. Perusahaan perlu memastikan transparansi kepada karyawan bahwa teknologi ini hadir sebagai alat bantu keselamatan, bukan sekadar mekanisme pengawasan represif. Adopsi luas terhadap teknologi ini akan sangat bergantung pada kemampuan industri menyeimbangkan efisiensi operasional dengan hak-hak individu pekerja lapangan.

BERITA TERKAIT (Teknologi)

Meow! Tanya Nesi!
😸